LAMPUNG — Serangan yang berlangsung dalam beberapa gelombang ini menandai eskalasi signifikan dalam kemampuan Ukraina menjangkau target jauh di dalam wilayah Rusia. Pusat logistik Wildberries, salah satu platform e-commerce terbesar di Rusia, menjadi salah satu sasaran yang dilaporkan terbakar akibat terkena serpihan drone yang dicegat.
Kementerian Pertahanan Rusia, dalam pernyataan resminya, menyebutkan bahwa pertahanan udara berhasil menembak jatuh 822 drone musuh. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga, sementara Ukraina sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai rincian operasi tersebut.
Gubernur wilayah Moskow, Andrei Vorobyov, mengonfirmasi adanya korban jiwa dan kerusakan pada sejumlah bangunan. "Enam orang tewas dalam serangan malam ini. Tim penyelamat masih bekerja di lokasi untuk memadamkan kebakaran," ujarnya melalui kanal Telegram resmi, Selasa (11/11).
Selain pusat logistik Wildberries, beberapa gudang penyimpanan di kawasan Ramenskoye dilaporkan mengalami kerusakan parah. Otoritas penerbangan Rusia sempat menutup sementara bandara di sekitar Moskow, termasuk Vnukovo dan Domodedovo, sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman drone yang masih berlangsung.
Serangan ini terjadi di tengah kebuntuan di medan perang timur Ukraina, di mana pasukan Rusia perlahan mendesak maju di wilayah Donetsk. Dengan meluncurkan drone ke infrastruktur logistik dan ekonomi Rusia, Kyiv berupaya menekan moral publik dan mengganggu rantai pasokan militer Moskow.
Para analis militer menilai penggunaan drone jarak jauh merupakan strategi asimetris Ukraina untuk mengimbangi keunggulan artileri dan personel Rusia. Target seperti pusat logistik Wildberries dianggap bernilai strategis ganda—mengganggu ekonomi sekaligus menunjukkan bahwa perang telah merambah ke kehidupan sehari-hari warga Rusia.
Sejak awal tahun, Rusia telah beberapa kali melaporkan serangan drone Ukraina ke wilayahnya, namun skala 822 unit yang diklaim dicegat dalam satu malam merupakan angka tertinggi yang pernah diumumkan Moskow. Kremlin menyebut tindakan ini sebagai "terorisme" dan mengancam akan memberikan respons yang setimpal.
Sementara itu, negara-negara Barat belum memberikan komentar resmi atas serangan terbaru ini. Namun, sebelumnya Washington dan Brussels telah mengizinkan Ukraina menggunakan senjata yang dipasok Barat untuk menyerang target militer di dalam wilayah Rusia, sebuah kebijakan yang terus memicu ketegangan dengan Moskow.
Serangan drone skala besar ini berpotensi memicu eskalasi balasan dari Rusia, yang selama beberapa pekan terakhir telah melancarkan rentetan serangan rudal dan drone ke infrastruktur energi Ukraina. Warga sipil di kedua negara kembali menjadi korban ketika perang memasuki musim dingin yang keras.
Belum ada indikasi mengenai pembicaraan gencatan senjata baru, dan baik Kyiv maupun Moskow tampaknya bersiap menghadapi pertempuran yang berlarut-larut. Ukraina diperkirakan akan terus mengandalkan drone sebagai alat untuk menekan Rusia, sementara Moskow berupaya memperkuat pertahanan udaranya di sekitar ibu kota dan fasilitas-fasilitas kritis.