BANDAR LAMPUNG — KMP Mutiara Sentosa 2 yang terbakar di perairan utara Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada Minggu (2/8/2026) menyisakan duka mendalam bagi dunia pelayaran nasional. Kapal yang tengah mengangkut sekitar 250 penumpang dan awak dari Surabaya menuju Makassar ini ludes dilalap api sejak pagi hari, memaksa puluhan orang melompat ke laut demi menyelamatkan diri.
Hingga Senin (3/8/2026), tim SAR gabungan dari Basarnas, KPLP, Ditpolairud, serta kapal niaga di sekitar lokasi seperti TB Hasnur 26 dan Meratus Project 3 berhasil mengevakuasi 227 penumpang dalam keadaan selamat. Namun, lima penumpang lainnya dikonfirmasi meninggal dunia, sementara kapal dilaporkan mengalami kerusakan berat dan hanyut di perairan utara Sumenep.
Sebelum beroperasi di Indonesia, kapal ini dibangun di galangan Saiki Heavy Industries, Jepang, dan mulai berlayar pada Januari 1992 dengan nama Ferry Osaka. Selama 23 tahun, kapal sepanjang 160 meter dengan bobot mati 3.850 ton ini melayani rute Osaka–Kitakyushu di bawah operator Meimon Taiyo Ferry, salah satu perusahaan pelayaran besar di Jepang.
Selama beroperasi di Negeri Sakura, Ferry Osaka dikenal memiliki catatan keselamatan yang nyaris tanpa cela, tanpa kebakaran besar maupun gangguan mesin fatal. Sistem pengawasan ketat dari otoritas pelayaran Jepang disebut menjadi kunci performa kapal tersebut selama bertahun-tahun.
Pada September 2015, Ferry Osaka dipensiunkan seiring hadirnya armada baru. Kapal sempat berganti nama menjadi Golden Bird 5 dalam proses alih kepemilikan sebelum akhirnya dibeli PT Atosim Lampung Pelayaran pada akhir 2015 dan dioperasikan dengan nama KMP Mutiara Sentosa 2.
Kebakaran dilaporkan mulai terjadi sekitar pukul 06.00 WIB ketika kapal tengah berlayar dari Surabaya menuju Makassar. Api dengan cepat melalap bagian kabin dan menghasilkan asap tebal yang memicu kepanikan di atas kapal.
Sejumlah penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan berkumpul di haluan kapal, sementara sebagian lainnya nekat melompat ke laut karena kobaran api terus membesar. Nakhoda sempat mengirimkan sinyal darurat (distress call), namun setelah itu komunikasi terputus.
"Pihak perusahaan mendapat informasi dari nakhoda bahwa kapal terbakar di ujung utara Madura sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB. Setelah itu nakhoda tidak dapat dihubungi kembali," ujar Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit P.H.
Peristiwa ini membangkitkan kembali ingatan terhadap insiden serupa yang menimpa kapal lain milik operator yang sama, KM Mutiara Sentosa I, pada Mei 2017. Saat itu kapal terbakar di Perairan Masalembu, Sumenep, memicu kepanikan ratusan penumpang yang terpaksa melompat ke laut.
Kala itu, Kepala Basarnas Muhammad Syaugi menyebut sebagian besar penumpang memilih meninggalkan kapal karena tidak mampu bertahan akibat panas dan asap yang memenuhi dek. Tragedi tersebut mengakibatkan lima orang meninggal dunia, sementara total 197 korban terevakuasi dari manifest kapal yang membawa 187 jiwa (37 ABK dan 150 penumpang).
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 masih diselidiki oleh otoritas terkait. Dua peristiwa kebakaran yang menimpa armada dengan nama Mutiara Sentosa di wilayah perairan yang relatif sama menjadi sorotan serius terhadap aspek keselamatan pelayaran nasional.
Investigasi diharapkan tidak hanya mengungkap sumber api, tetapi juga menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan kapal penumpang di Indonesia, khususnya bagi kapal-kapal bekas impor yang telah beroperasi puluhan tahun.