LAMPUNG — Kerja sama ini bukan sekadar nota kesepahaman. Pertamina menargetkan ada rantai nilai energi bersih yang utuh, dari hulu hingga hilir. Sampah yang selama ini menjadi masalah perkotaan akan disulap menjadi sumber energi masa depan.
Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, menyebut proyek ini akan dikerjakan bersama Subholding Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan Subholding Gas. Masing-masing punya peran mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, pembangunan infrastruktur, hingga distribusi dan komersialisasi produk.
Lokasi yang jadi pionir adalah TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat. Sampah yang masuk akan diolah menjadi biogas, lalu dimurnikan menjadi biomethane. Tahap berikutnya, biomethane itu diproses lagi menjadi hidrogen.
"Sampah yang diolah nantinya akan menghasilkan biogas, kemudian dikembangkan menjadi hidrogen dan biomethane," ujar Emma dalam keterangan tertulis, Sabtu (31/7/2026).
Pertamina juga menggandeng mitra internasional, yakni Hyundai dari Korea Selatan. Keterlibatan raksasa otomotif itu disebut Emma sebagai bagian dari percepatan adopsi teknologi energi rendah karbon.
"Kami melihat ini sebagai kolaborasi yang sangat baik antara Pertamina, Pemprov Jawa Barat, dan mitra internasional dalam mengembangkan energi low carbon, khususnya hidrogen. Program ini kami harapkan menjadi percontohan dalam membangun ekosistem hidrogen di Indonesia," kata Emma.
Di waktu yang sama, Pemprov Jawa Barat melakukan peletakan batu pertama Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPPAS Legok Nangka. Fasilitas ini dirancang mengolah 2.000 ton sampah per hari menjadi listrik berkapasitas 40 MW.
Kehadiran PSEL Legok Nangka diharapkan mengurangi beban TPA Sarimukti yang selama ini menjadi lokasi utama pembuangan sampah Bandung Raya. Fasilitas ini juga akan mendukung pengembangan hidrogen dan biomethane sebagai energi bersih.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menegaskan proyek ini bagian dari upaya pemerintah mempercepat penyediaan energi bersih sekaligus menyelesaikan persoalan sampah. Targetnya, fasilitas mulai beroperasi pada 2029 dengan menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja.
"Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih baik, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, sekaligus menghasilkan energi bersih secara berkelanjutan," ujar Yuliot.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan pembangunan PSEL Legok Nangka akan memperkuat posisi Jabar sebagai pusat pengembangan energi bersih nasional. Rencananya, fasilitas serupa bakal diperluas ke sejumlah kawasan lain di provinsi tersebut.
"Dengan hadirnya fasilitas pengolahan sampah menjadi energi ini, Jawa Barat bisa menangani persoalan sampah secara lebih optimal sekaligus meningkatkan pasokan energi bersih," kata Dedi.
Bagi Pertamina, proyek ini bukan sekadar bisnis. Emma menekankan komitmen perusahaan terhadap kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. "Sebagai perusahaan energi, Pertamina memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh aktivitas usaha berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan," tuturnya.
Jika model bisnis ini berhasil di Jawa Barat, Pertamina berencana mereplikasinya ke daerah lain. Artinya, solusi sampah menjadi energi tidak lagi sekadar wacana, tapi punya cetak biru yang bisa dijalankan di kota-kota besar Indonesia yang menghadapi darurat sampah.