BANDARLAMPUNG — Program intervensi gizi yang dijalankan Japfa Comfeed Indonesia di Lampung mencatat hasil signifikan. Data perusahaan menunjukkan pada 2024 sebanyak 762 dari 1.479 siswa atau 51,5 persen yang sebelumnya mengalami gizi kurang dan buruk berhasil mencapai status gizi baik.
Angka perbaikan itu meningkat pada 2025. Sebanyak 646 dari 1.034 siswa atau 62,5 persen peserta program berhasil keluar dari kondisi malagizi.
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan Lampung menjadi salah satu wilayah pertama pelaksanaan JAPFA for Kids. Hingga kini provinsi itu tetap menjadi daerah prioritas pengembangan program.
"Sejak pertama kali dijalankan pada tahun 2008, JAPFA for Kids telah menjadikan Provinsi Lampung sebagai salah satu wilayah implementasi program. Komitmen tersebut terus kami lanjutkan di berbagai kabupaten hingga kembali hadir di Lampung pada tahun ini dengan jangkauan yang lebih luas," kata Retno di Bandarlampung, Kamis.
Program ini pertama kali dimulai di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur pada 2008 dengan enam sekolah dan 1.632 siswa. Setahun kemudian, pada 2010, jangkauan meluas ke Lampung Selatan.
Pada 2012, program masuk ke Tanggamus dan Pringsewu, disusul Pesawaran pada 2013, lalu kembali ke Lampung Timur pada 2015 dan Lampung Tengah pada 2016. Lampung Selatan kembali menjadi lokasi pada 2019 dan kini pada 2026.
Retno menjelaskan kegiatan yang dijalankan meliputi edukasi empat pilar gizi seimbang, Hari Sehat JAPFA, edukasi konsumsi protein hewani, pemantauan status gizi siswa, pelatihan guru, hingga pendampingan sekolah untuk membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia dini.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sekitar 11 persen anak usia 5-12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Pemantauan JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan program sepanjang 2024 juga menemukan sekitar 10,1 persen siswa masih mengalami kondisi malagizi.
Perusahaan menerapkan pendekatan terintegrasi dalam mendukung perbaikan status gizi anak. Program ini memberikan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi.
Pemantauan rutin berat dan tinggi badan dilakukan melalui aplikasi digital. Pembiasaan perilaku hidup sehat diperkuat lewat program Hari Sehat JAPFA, edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala.
Secara nasional hingga 2026, JAPFA for Kids telah menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota pada 28 provinsi. Retno menambahkan kolaborasi dengan pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, masyarakat, dan media menjadi kunci untuk mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas.