13.400 Siswa di Lampung Tersentuh Program Gizi JAPFA for Kids, 2.051 di Antaranya dari Lampung Selatan

Penulis: Nopriansyah Putra  •  Kamis, 30 Juli 2026 | 21:06:31 WIB
Lebih dari 13.400 siswa di Lampung menjadi penerima manfaat program intervensi gizi JAPFA for Kids sejak 2008.

LAMPUNG SELATAN — Program intervensi gizi untuk anak usia sekolah, JAPFA for Kids, kembali menyasar Kabupaten Lampung Selatan pada 2026. Sebanyak 2.051 siswa dari 15 sekolah di daerah itu menjadi penerima manfaat, didampingi 165 guru yang mendapat pelatihan pola hidup sehat dan pemantauan status gizi.

Malnutrisi Anak Masih Mengkhawatirkan

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 11 persen anak usia 5–12 tahun masih mengalami gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Temuan serupa juga terlihat dari pemantauan internal JAPFA di tujuh lokasi program sepanjang 2024, di mana 10,1 persen siswa masuk kategori tersebut.

"Siswa dengan kondisi malagizi mendapat tambahan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan," ujar Retno dalam konferensi pers di Hotel Aston, Kamis (30/7/2026). Pertumbuhan anak-anak itu dipantau secara berkala lewat aplikasi digital, dibarengi pembiasaan perilaku hidup sehat melalui program Hari Sehat JAPFA.

Lampung Jadi Lokasi Perdana Sejak 2008

Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah pertama yang menjalankan JAPFA for Kids sejak diluncurkan pada 2008. Head of Unit RPA Lampung JAPFA, Muzammil, menjelaskan program itu bermula di Lampung Tengah dan Lampung Timur dengan enam sekolah dan 1.632 siswa.

Ekspansi terus berlanjut: Lampung Selatan pada 2010, Tanggamus dan Pringsewu pada 2012, Pesawaran pada 2013, Lampung Timur pada 2015, Lampung Tengah pada 2016, dan kembali ke Lampung Selatan pada 2019. Hingga 2026, total penerima manfaat di Lampung mencapai 69 sekolah dengan lebih dari 13.400 siswa.

Empat Pilar Gizi dan Pelatihan Guru

Program ini mencakup edukasi empat pilar gizi seimbang, konsumsi protein hewani, pemantauan status gizi, hingga pendampingan sekolah membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Pelatihan bagi tenaga pendidik menjadi salah satu pilar utama agar intervensi berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Muzammil berharap kolaborasi antara pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, masyarakat, dan media semakin kuat. "Komitmen ini terus kami lanjutkan di berbagai kabupaten hingga kembali hadir di Lampung pada tahun ini dengan jangkauan yang lebih luas," katanya.

Reporter: Nopriansyah Putra
Sumber: radarlampung.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top