PESAWARAN — Program Satu Telur Sehari yang diinisiasi Alfamart sejak 2022 terus menunjukkan perluasan signifikan. Pada 2026, jangkauan melonjak ke 39 kota di Indonesia, meningkat drastis dari 25 kota pada tahun sebelumnya. Target distribusi tahun ini mencapai 510.000 butir telur untuk 2.700 anak yang mengalami perlambatan pertumbuhan.
Di Lampung, intervensi gizi ini dikolaborasikan dengan BKKBN Provinsi Lampung dan Dinas P3AP2KB Kabupaten Pesawaran. Penyuluh KB serta kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) dilibatkan untuk memantau perkembangan status gizi anak secara berkala selama masa intervensi.
Sejak diluncurkan, program ini mencatat tren positif. Pada 2022, sebanyak 177.000 butir telur disalurkan kepada 1.000 anak di 10 kota. Angka itu terus bertambah: pada 2024 menjangkau 12 kota dengan 103.000 butir telur untuk 591 anak, dan pada 2025 meluas ke 25 kota dengan distribusi 189.000 butir telur kepada 1.000 anak.
Hasil monitoring menunjukkan 72 persen anak penerima manfaat pada 2025 mengalami perkembangan tumbuh kembang yang positif. Angka ini menjadi dasar perluasan program yang lebih agresif pada 2026.
General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, menegaskan program ini bukan sekadar pembagian telur. Penerima manfaat ditentukan berdasarkan data akurat dari dinas kesehatan setempat agar tepat sasaran bagi anak-anak yang terindikasi stunting.
“Program Satu Telur Sehari bukan sekadar membagikan telur, melainkan sebuah intervensi sederhana yang terbukti efektif dan efisien dalam penanganan stunting di berbagai daerah,” ujar Rani dalam keterangan resmi.
Ia menambahkan, program yang berlangsung sejak Mei hingga Oktober 2026 ini juga diintegrasikan dengan kegiatan pendampingan dan edukasi gizi bagi orang tua. “Semangat utamanya adalah bagaimana Alfamart dapat hadir dan berkontribusi nyata menekan angka stunting, sehingga anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat,” tutupnya.
Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung, Karnadinata, mengapresiasi konsistensi Alfamart dalam mendukung program pemerintah. Menurutnya, penanganan stunting membutuhkan kerja sama dan kepedulian bersama antara pemerintah dan sektor swasta.
“Ini adalah wadah gotong royong yang sangat baik. Melalui sinergi ini, kita berharap dapat menciptakan langkah konkret dalam mendukung percepatan penurunan stunting, khususnya di Provinsi Lampung,” kata Karnadinata.