METRO — Rumah sakit milik Pemkot Metro ini dinilai memiliki fasilitas lengkap untuk menangani kegawatdaruratan ibu dan bayi. Tim visitasi memberikan apresiasi tinggi terhadap kesiapan sarana dan prasarana, khususnya fasilitas MICU (Mobile Intensive Care Unit) yang disebut memiliki alat yang belum dimiliki rumah sakit lain di Lampung.
Ketua Tim Visitasi RS Persahabatan Jakarta, dr. Ernie Meliane Yulisye, A.Md.F.T., menyebut peralatan MICU di RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro sangat modern. “Untuk sarana dan prasarana MICU di RSUD Ahmad Yani Metro ini luar biasa. Peralatannya sangat baik dan bahkan ada yang belum dimiliki rumah sakit lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program pengampuan ini melibatkan Persatuan Dokter Anak dan sejumlah tenaga kesehatan spesialis. Tujuannya mendampingi rumah sakit di Lampung dalam meningkatkan mutu layanan KIA sekaligus mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi yang masih menjadi tantangan nasional.
Dalam visitasi, tim melakukan simulasi penanganan kegawatdaruratan ibu dan bayi secara menyeluruh. Proses simulasi mencakup penerimaan pasien di IGD, penanganan ibu hamil, resusitasi bayi, hingga tindakan penyelamatan nyawa bayi dalam kondisi kritis.
Direktur RSUD Jend. Ahmad Yani Kota Metro, Eko Hendro Saputra, mengatakan pihaknya telah menyiapkan tim PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif) yang siaga 24 jam. “Tim ini khusus menangani kedaruratan ibu hamil, bersalin, dan bayi baru lahir. Didukung bidan dan perawat yang sudah terlatih PONEK, NICU, dan PICU,” jelas Eko, Senin (15/6/2026).
RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro memiliki dua dokter spesialis obstetri ginekologi dan dua dokter spesialis anak. Rumah sakit ini juga memiliki dokter sub spesialis feto maternal yang masih langka di Lampung.
Eko merinci sejumlah indikator penilaian yang membuat rumah sakitnya layak menjadi pengampu. Di antaranya keberadaan bank darah berstandar, peralatan neonatus yang baik, ventilator transport, ruangan NICU Perina yang bersih, ruang susu, alat CIPAP, USG, serta kamar operasi yang dekat dengan IGD, ruang poli, dan ruang bersalin.
Berdasarkan data tahun 2025, RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro mencatat 37 kasus pelayanan antenatal care, 201 kasus persalinan, 4 kasus kematian maternal, dan 18 kasus kematian neonatal. Tim visitasi sepakat bahwa pelayanan neonatus di rumah sakit ini sudah sangat baik dan bisa menjadi pusat rujukan neonatus.
Meski demikian, Eko mengingatkan bahwa status sebagai rumah sakit pengampu bukanlah akhir dari perjalanan. “Apabila rumah sakit tidak mampu menjaga mutu layanan, maka akan ditinggalkan masyarakat. Sebaliknya, bila mampu menjaga mutu layanan maka kepercayaan masyarakat akan semakin meningkat,” tuturnya.