Keputusan Valve menaikkan harga jual Steam Deck secara besar-besaran bukan sekadar penyesuaian pasar biasa. Dalam satu kali pengumuman, perusahaan game asal Amerika Serikat itu menaikkan harga kedua varian yang masih beredar lebih dari 40 persen. Alasan resmi yang diberikan adalah tekanan dari kelangkaan DRAM yang masih berlangsung, yang telah menaikkan biaya komponen di seluruh lini produk teknologi konsumen.
Kenaikan harga ini menjadi ironi tersendiri bagi Steam Deck. Sejak awal dirilis, perangkat genggam ini diposisikan sebagai produk massal—sebuah PC gaming portabel yang bisa dijangkau oleh banyak orang. Namun, ketika harga naik lebih dari 40 persen dalam satu waktu, jarak antara produk massal dan harga massal semakin melebar.
Valve tidak merinci angka pasti kenaikan untuk masing-masing varian, tetapi dampaknya langsung terasa di komunitas gamer global. Bagi konsumen yang sudah menunggu harga Steam Deck turun atau setidaknya stabil, pengumuman ini menjadi pukulan telak.
Kenaikan harga ini memicu pertanyaan yang lebih fundamental: apakah Valve masih serius dengan ambisi Steam Machine? Konsep Steam Machine awalnya digadang-gadang sebagai upaya Valve untuk menghadirkan perangkat keras gaming berbasis SteamOS yang bisa bersaing dengan konsol tradisional. Namun, Steam Deck yang seharusnya menjadi ujung tombak strategi itu justru menunjukkan tanda-tanda kesulitan.
Harga yang meroket bukan hanya soal daya beli. Ini soal sinyal. Jika produk andalan sekalipun harus dinaikkan harganya secara drastis, maka prospek untuk menghadirkan lini perangkat keras Steam Machine yang lebih luas—dengan harga yang kompetitif—semakin suram.
Valve secara eksplisit menyebut kelangkaan DRAM sebagai penyebab kenaikan harga. Ini adalah masalah industri yang nyata. Kenaikan biaya komponen memori telah dirasakan oleh banyak produsen perangkat keras, dari laptop hingga smartphone. Namun, yang membedakan Valve adalah besaran kenaikannya. Lebih dari 40 persen dalam satu waktu adalah langkah yang agresif, bahkan untuk standar industri yang sedang tertekan.
Pertanyaannya, apakah kenaikan ini bersifat sementara atau permanen? Jika kelangkaan DRAM mereda, apakah Valve akan menurunkan harga kembali? Ataukah ini adalah normal baru bagi Steam Deck?
Bagi gamer yang sudah memiliki Steam Deck, kenaikan harga ini mungkin tidak berdampak langsung. Namun, bagi mereka yang masih menimbang-nimbang untuk membeli, pilihannya menjadi lebih sulit. Dengan harga yang kini melonjak, Steam Deck harus bersaing tidak hanya dengan konsol genggam lain, tetapi juga dengan laptop gaming entry-level atau bahkan PC rakitan.
Valve belum memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai strategi harga ke depan atau rencana untuk model Steam Deck baru. Yang jelas, langkah ini telah mengirimkan sinyal yang jelas: mimpi Valve untuk menghadirkan perangkat keras gaming massal yang murah mungkin harus ditunda lebih lama lagi.