OpenAI Ungkap Kampanye Akun Palsu Asal China yang Pakai ChatGPT untuk Lawan Data Center di AS

Penulis: Nasrul Effendi  •  Kamis, 11 Juni 2026 | 16:33:01 WIB
OpenAI mengungkap kampanye akun palsu asal China yang menggunakan ChatGPT untuk menyebar propaganda terkait data center di AS.

Dalam laporan yang dirilis pekan lalu, OpenAI mengidentifikasi dua klaster akun yang diduga berasal dari China dan menggunakan ChatGPT untuk menghasilkan konten propaganda. Klaster pertama, yang disebut OpenAI sebagai "Data Center Bandwagon", secara sistematis meminta chatbot menghasilkan narasi dan gambar—termasuk komik strip—yang menyoroti dampak data center terhadap kenaikan harga listrik rumah tangga.

Tagihan Listrik Naik 267 Persen di Zona Data Center

Kampanye ini memanfaatkan keresahan yang sudah nyata. Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa di beberapa wilayah dekat data center di AS, tagihan listrik bulanan kini bisa mencapai 267 persen lebih mahal dibandingkan lima tahun lalu. Permintaan energi yang melonjak akibat operasional data center memang telah melampaui pasokan yang tersedia.

Yang menarik, akun-akun ini bahkan mengunggah dokumen strategi ke ChatGPT—menjelaskan target, cara menghindari deteksi, dan metode membangun opini publik. Mereka juga menyasar diaspora China di luar negeri, meminta ChatGPT membuat hinaan untuk melecehkan para pembangkang dan komentator politik China yang tinggal di luar negeri.

Klaster Kedua Fokus pada Tarif AS dan Kebijakan Teknologi

Klaster kedua yang ditemukan OpenAI memiliki sasaran berbeda: mengkritik kebijakan tarif dan teknologi AS. Mereka menghasilkan komentar dan gambar yang menekankan bahwa AS telah "menikam sekutunya dari belakang." Kelompok ini secara spesifik meminta ChatGPT untuk tidak menampilkan gambar Presiden China Xi Jinping, dan menulis komentar dalam bahasa Inggris, Italia, Jepang, dan Mandarin tradisional—yang ditargetkan untuk audiens Taiwan.

OpenAI mengakui bahwa kedua kampanye ini gagal meraih engagement yang berarti dan tidak benar-benar menggeser opini publik. Namun perusahaan menilai kampanye ini tetap signifikan karena operatornya berusaha menyusup secara diam-diam ke dalam perdebatan domestik AS tentang masa depan kecerdasan buatan—sambil menyembunyikan identitas dan motif mereka.

Menggunakan ChatGPT, Bukan DeepSeek?

Satu pertanyaan yang mengemuka: mengapa para pelaku ini menggunakan chatbot buatan AS seperti ChatGPT, bukan alternatif China seperti DeepSeek? Dalam laporannya, OpenAI mengaku tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. "Kami tidak dalam posisi untuk menentukan apa yang mendorong pilihan ini," tulis laporan itu.

Yang pasti, konten yang mereka hasilkan—terutama soal kenaikan biaya listrik dan dampak data center—bukanlah hoaks. Isu ini memang sudah menjadi perdebatan hangat di komunitas warga dan aktivis lingkungan di AS. Bedanya, para pelaku mencoba membajak diskusi itu untuk kepentingan politik tertentu tanpa mengungkapkan jati diri mereka.

Reporter: Nasrul Effendi
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top