LAMPUNG — Pembahasan buyback saham bank BUMN mengemuka dalam rapat koordinasi yang digelar di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (9/7/2026). Pertemuan itu dihadiri jajaran direksi Himbara, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta pimpinan Danantara (INA), BPJS Ketenagakerjaan, dan Taspen. Dasco mengatakan, koordinasi ini bertujuan mengevaluasi dinamika pasar keuangan dan mencari peluang membeli kembali saham-saham perbankan negara yang dinilai memiliki prospek cerah.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa seluruh bank anggota Himbara mencatatkan kinerja solid. Pertumbuhan kredit rata-rata mencapai sekitar 20 persen secara tahunan, sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh di kisaran 20 hingga 30 persen. "Secara fundamental, kinerja Himbara sangat baik. Masyarakat dan investor tidak perlu khawatir," ujar Putrama.
Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan pelat merah juga berada di level 88-90 persen, mencerminkan likuiditas yang sehat. Dengan indikator tersebut, manajemen Himbara yakin emiten perbankan BUMN memiliki pondasi kuat untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Dasco menilai keterlibatan Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, dan Taspen dalam skema buyback menunjukkan potensi dukungan modal domestik yang besar. Menurutnya, saham-saham bank BUMN yang saat ini tertekan akibat sentimen global justru bisa menjadi peluang investasi. "Pada saat ini sudah saatnya berdiskusi bagaimana pada kesempatan yang tepat melakukan buyback atau membeli kembali saham-saham yang sebenarnya bagus di pasar," kata Dasco.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi turut menyatakan optimisme terhadap daya tahan ekonomi nasional. "Fundamental ekonomi nasional, khususnya sektor perbankan, masih sangat kuat dan memiliki resiliensi yang baik dalam menghadapi berbagai tantangan global," ujarnya.
Pembahasan buyback ini menjadi bagian dari strategi pemerintah merespons tekanan pasar global yang berdampak pada pergerakan saham emiten BUMN. Dasco menekankan bahwa kondisi industri perbankan nasional tetap positif berdasarkan hasil diskusi dengan para pemangku kepentingan. Pertemuan tersebut turut dihadiri Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi, Direktur Utama BRI Hery Gunardi, serta Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Prihati Pujowaskito.
Langkah buyback diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas harga saham, tetapi juga memperkuat kepercayaan investor terhadap sektor perbankan milik negara yang menjadi tulang punggung perekonomian.