YouTuber teknologi TrashBench merakit sistem pendingin cair Peltier kustom untuk menguji performa termal kartu grafis Nvidia RTX 4060 dan RTX 3070. Meski mampu mencapai suhu di bawah ambien, eksperimen ini membuktikan bahwa efisiensi daya yang buruk tetap menjadi hambatan utama teknologi termoelektrik untuk penggunaan harian.
Dunia modifikasi PC ekstrem kembali diramaikan oleh eksperimen penggunaan thermoelectric cooler (TEC) atau Peltier untuk mendinginkan kartu grafis (GPU). TrashBench, seorang kreator konten YouTube, baru-baru ini membagikan proses perakitan sistem pendingin Peltier yang sangat kompleks untuk menguji apakah teknologi ini layak diterapkan pada GPU modern.
Sistem ini tidak main-main karena melibatkan dua unit All-in-One (AIO) liquid cooler berukuran 360mm hanya untuk membuang panas dari modul Peltier itu sendiri. TrashBench menggunakan pengontrol DC buatan sendiri untuk mengatur daya yang masuk ke unit termoelektrik, yang kemudian dihubungkan ke custom loop untuk mendinginkan GPU.
Rancangan ini memisahkan jalur pembuangan panas modul Peltier dengan jalur pendinginan komponen GPU. Berikut adalah detail komponen yang digunakan dalam eksperimen tersebut:
Pengujian pertama dilakukan pada RTX 4060 dengan suhu udara ruangan (ambient) di angka 23 derajat Celsius. Sebelum Peltier dinyalakan, suhu inti GPU berada di 38 derajat Celsius dengan suhu cairan pendingin 24 derajat Celsius. Setelah sistem Peltier aktif selama 20 menit, suhu GPU turun 10 derajat ke angka 28 derajat Celsius, sementara suhu cairan drop ke 14 derajat Celsius.
TrashBench kemudian menguji kartu grafis yang lebih haus daya, RTX 3070. Tanpa bantuan Peltier, GPU ini mencatatkan suhu inti 40 derajat Celsius. Saat sistem termoelektrik diaktifkan, suhu inti berhasil ditekan ke 33 derajat Celsius dan suhu cairan menyentuh 21 derajat Celsius di bawah beban kerja 3DMark Time Spy. Hasil ini memang menunjukkan suhu di bawah rata-rata suhu ruangan, namun dengan kompensasi yang sangat mahal.
Kelemahan utama dari eksperimen ini adalah inefisiensi daya yang ekstrem. Untuk menurunkan suhu GPU sebesar 7 hingga 10 derajat, sistem pendinginnya saja memakan daya hingga 360 watt. Angka ini bahkan lebih besar dari konsumsi daya kartu grafis RTX 3070 itu sendiri saat bekerja penuh.
Teknologi Peltier bekerja dengan cara mendinginkan satu sisi material semikonduktor sambil membuang panas yang sangat besar di sisi lainnya. Masalahnya, radiator yang digunakan harus mampu membuang panas dari GPU sekaligus panas yang dihasilkan oleh modul Peltier tersebut. Hal inilah yang membuat penggunaan Peltier di segmen konsumen sangat jarang ditemui, kecuali pada produk niche seperti Cooler Master ML360 Sub Zero yang juga sempat menuai kritik serupa.
Bagi antusias PC di Indonesia, eksperimen pendinginan sub-ambient (di bawah suhu ruangan) seperti ini membawa risiko tambahan berupa kondensasi. Mengingat tingkat kelembapan udara di Indonesia yang sangat tinggi, suhu cairan yang turun drastis di bawah suhu ruangan dapat memicu munculnya embun pada komponen elektronik.
Tanpa isolasi yang sempurna pada area sekitar waterblock dan soket, embun tersebut dapat menyebabkan hubungan arus pendek (korsleting). Eksperimen TrashBench sekali lagi mengonfirmasi bahwa bagi sebagian besar pengguna, sistem pendingin cair konvensional dengan radiator besar tetap jauh lebih efektif dan aman dibandingkan memaksakan teknologi termoelektrik yang boros listrik.
Hingga saat ini, produsen komponen besar belum menunjukkan tanda-tanda akan membawa teknologi Peltier ke pasar massal GPU. Fokus industri saat ini lebih tertuju pada pengembangan desain kipas yang lebih senyap serta penggunaan vapor chamber yang lebih luas untuk menangani panas GPU generasi mendatang.