LAMPUNG — Produsen asal Pakistan, Nora, memperkenalkan Metro EV, MPV listrik subkompak yang tampilannya meniru Toyota Alphard dan Vellfire namun dijual di bawah Rp 200 juta. Dengan panjang hanya 3.900 mm dan motor listrik 4 kW, mobil ini menyasar pembeli yang ingin tampilan premium tanpa harga premium.
Nora, pabrikan otomotif dari Pakistan, resmi memperkenalkan Metro EV sebagai MPV subkompak bertenaga listrik. Secara desain, Metro EV jelas mengambil inspirasi dari Toyota Alphard dan Vellfire yang sangat populer di pasar Jepang dan beberapa negara lain.
Namun di balik kemiripan visualnya, Metro EV menyimpan sejumlah perbedaan mendasar. Mulai dari ukuran bodi, dapur pacu, hingga sistem pintu yang digunakan.
Pada bagian depan, lampu utama Metro EV tampil lebih sederhana dibanding Vellfire asli. Meski begitu, grille dan lubang udara vertikal dengan aksen krom berhasil meniru karakter desain MPV premium Toyota tersebut.
Bagian belakang juga tidak kalah mirip. Desain lampu belakangnya menyerupai Alphard, lengkap dengan roof spoiler, pintu bagasi vertikal, dan lampu berbentuk segitiga.
Satu perbedaan yang cukup signifikan: Metro EV menggunakan pintu konvensional untuk akses ke kursi baris kedua. Sementara Alphard dan Vellfire mengandalkan pintu geser elektrik.
Meski tampilannya meniru MPV medium, ukuran Metro EV sebenarnya jauh lebih mungil. Panjangnya hanya 3.900 mm, bahkan lebih pendek dari hatchback subkompak Eropa.
Mobil ini juga memakai velg 14 inci yang biasa dijumpai pada mobil jenis kei car Jepang. Artinya, Metro EV lebih tepat disebut MPV subkompak ketimbang MPV medium seperti Alphard.
Masuk ke kabin, Metro EV jelas tidak semewah Alphard atau Vellfire. Namun Nora berupaya menghadirkan kesan premium lewat gaya dan warna yang terinspirasi mobil kelas atas.
Dashboard-nya sekilas mengingatkan pada Mercedes Hyperscreen. Tapi setelah diamati, itu hanya sepotong plastik besar dengan layar infotainment sederhana di bagian tengah.
Fitur yang tersedia cukup standar untuk mobil listrik murah:
Kapasitas kursinya 5-seater, cukup untuk kebutuhan keluarga kecil atau pemakaian harian di perkotaan.
Dari sisi tenaga, Metro EV mengandalkan satu motor listrik berdaya 4.000 Watt atau setara 4 kW. Angka ini tergolong kecil, jadi jangan berharap akselerasi seperti mobil listrik modern kelas atas.
Nora menawarkan tiga opsi baterai:
Baterai terbesar menjanjikan jarak tempuh 250-300 km. Untuk pemakaian dalam kota, angka itu masih masuk akal.
Metro EV menggunakan sasis dari China. Namun Nora mengklaim sasis tersebut direkayasa ulang agar lebih cocok dengan kondisi jalanan Asia Selatan dan meningkatkan ergonomi bagi penumpang bertubuh tinggi.
Nora juga berencana menghadirkan sistem swap baterai pada Metro EV. Dengan begitu, pengguna tidak perlu menunggu lama saat mengisi daya.
Soal harga, Nora menjanjikan Metro EV dijual di bawah 3 juta rupee Pakistan atau setara Rp 194 jutaan dengan kurs 1 rupee Pakistan sekitar Rp 64,89.
Harga itu terbilang agresif untuk mobil listrik dengan tampilan meniru MPV premium. Tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum terlalu antusias.
Metro EV lebih tepat diposisikan sebagai kendaraan listrik murah dengan gaya MPV premium. Bukan pengganti Alphard atau Vellfire, melainkan alternatif bagi pembeli yang menginginkan tampilan berbeda di kelas harga di bawah Rp 200 juta.
Untuk pasar Indonesia sendiri, belum ada kepastian apakah Nora akan memasarkan Metro EV secara resmi. Jika masuk, mobil ini bakal bersaing dengan kendaraan listrik murah lain yang sudah lebih dulu hadir.