LAMPUNG — Nunukan — Menjangkau nasabah di Pulau Sebatik bukan perkara mudah. Sebagian wilayah didominasi perkebunan kelapa sawit dengan jalan berkelok dan berbukit. Ketika hujan turun deras, perjalanan laut pun menghadapi ombak besar.
Novi, sapaan akrabnya, harus mengejar waktu agar proses pembiayaan tidak tertunda. "Terkadang kami harus mengejar waktu sehingga perjalanan terasa cukup menantang, apalagi ketika banyak kendaraan roda empat yang melintas," ujarnya.
Sejak ditempatkan di Sebatik, Novi mendampingi sekitar 18 kelompok dengan hampir 100 nasabah. Mayoritas dari mereka adalah perempuan pelaku usaha rumput laut.
Modal dari PNM Mekaar dipakai untuk membeli tali, salah satu kebutuhan utama dalam proses budidaya. Ada pula nasabah yang menggarap hasil laut lain seperti udang dan kerang tudai.
Pola kerja keluarga nelayan di Sebatik cukup khas. Suami mencari hasil laut di pulau lain, sementara istri menjual tangkapan untuk memperoleh penghasilan.
Perubahan paling berkesan bagi Novi terlihat pada perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai "Mak Betang" — istilah lokal untuk orang yang membantu mengikat rumput laut, termasuk di tempat penjemuran.
Setelah memperoleh pembiayaan PNM, sebagian dari mereka mulai membangun usaha sendiri. "Jadi, sebelumnya hanya sebagai pekerja, sekarang mereka mulai memiliki usaha sendiri," kata Novi.
Dampaknya tidak berhenti di situ. Ketika usaha nasabah membesar, kebutuhan tenaga kerja ikut naik dan membuka peluang penghasilan bagi warga sekitar.
"Dampak nyatanya adalah nasabah bisa membuka peluang kerja bagi orang lain. Mereka bisa mengembangkan usahanya sehingga usahanya semakin besar dan pada akhirnya dapat menjadi peluang pekerjaan bagi masyarakat lainnya," ujarnya.
Usaha rumput laut di Nunukan terhubung dengan rantai ekonomi yang lebih luas. Sebagian hasil panen dikirim ke Sulawesi untuk masuk ke pabrik pengolahan, dan sebagian produknya diekspor.
Sejumlah nasabah di Nunukan juga mengolah rumput laut menjadi amplang. "Untuk rumput lautnya sendiri, sebagian dikirim ke Sulawesi. Dari sana, ada pabrik yang kemudian mengolahnya dan sebagian bisa diekspor," ujar Novi.
Kisah Novi menjadi bagian dari kerja Holding Ultra Mikro (UMi), yang terdiri dari BRI sebagai induk bersama Pegadaian dan PNM. Holding ini dirancang menghadirkan akses pembiayaan terintegrasi bagi pelaku usaha mikro dan ultra mikro.
Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan keberhasilan Holding UMi tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga manfaat yang dirasakan langsung masyarakat.
Hingga kini, Holding Ultra Mikro telah menjangkau 33,6 juta nasabah pinjaman, dengan dukungan basis simpanan mikro lebih dari 166,3 juta rekening.
"Kisah Novi di Sebatik menjadi salah satu gambaran bagaimana manfaat tersebut hadir hingga ke pelosok daerah. Di tengah medan yang menantang, Novi terus menjangkau dan mendampingi nasabah agar dapat mengembangkan usaha, termasuk para pelaku usaha rumput laut," pungkas Dhanny.
Novi sendiri bergabung dengan PNM sejak 28 Oktober 2024. Sebelum dan setelah penempatan di Sebatik, ia bertugas di wilayah Nunukan.