Elon Musk Promosikan Penggunaan FSD Tesla yang Berbahaya, Pengacara Korban Bersorak

Penulis: Nasrul Effendi  •  Sabtu, 12 September 2026 | 15:50:01 WIB
Elon Musk membagikan ulang video pemilik Tesla berusia 98 tahun yang mengaku tidak mengawasi jalan saat menggunakan FSD (Supervised).

LAMPUNG — Musk mengutip ulang klip dari kanal YouTube The Fast Lane yang menampilkan Larry, pria 98 tahun asal Farmington, New Mexico. Larry baru membeli Model Y dan menggunakan FSD (Supervised) untuk berkendara di kotanya. Sawyer Merritt, agregator berita Tesla di platform X, memotong klip tersebut, lalu Musk mengutipnya dengan emoji hati. Unggahan itu telah dilihat lebih dari 9 juta kali.

Pengakuan Larry: "Saya Tidak Ingin Melihat"

Larry memang menggemaskan. Mobil pertamanya adalah Ford Model A tahun 1931. Sepanjang hidupnya ia memiliki lebih dari 100 mobil, lima di antaranya Mustang keluaran 1964 dan 1965. Namun pernyataannya tentang cara menggunakan FSD justru menjadi inti persoalan.

"Saya tidak ingin melihat setiap persimpangan dan memeriksa, 'Apakah persimpangan ini bersih, apakah yang itu bersih? Apakah ada orang di belakang saya?' Saya tidak ingin semua itu, dan saya tidak melakukannya," kata Larry dalam video tersebut.

Saat menonton mobil menangani persimpangan kosong sendiri, ia menambahkan: "Lihat, saya tidak perlu melihat, tahu! Saya tidak ingin melihat, mobil ini melakukannya sendiri." Ketika pembawa acara bertanya apakah ia mempercayainya sepenuhnya, Larry menjawab: "Saya percaya 100 persen."

Ia juga menyadari risikonya. "Mobil ini belum membuat kesalahan, dan saya mengambil peluang bahwa itu tidak akan terjadi, tapi peluangnya bagus. Saya mendapat peluang bagus," ujarnya.

Aturan Tesla Sendiri Melarang Perilaku Ini

Tesla mengganti nama produk menjadi "FSD (Supervised)" dengan alasan jelas. Sistem ini adalah bantuan mengemudi, bukan otonom penuh. Penafian Tesla sendiri menyatakan: "Fitur yang saat ini diaktifkan memerlukan pengawasan pengemudi aktif dan tidak membuat kendaraan menjadi otonom."

Artinya, pengemudi wajib mengawasi jalan dan siap mengambil alih kapan saja, termasuk di persimpangan. Persimpangan justru satu-satunya tempat yang menurut Larry tidak lagi ia perhatikan. Itu bukan pelanggaran teknis kecil. Itu adalah persyaratan keselamatan inti dari sistem yang ia gunakan.

Klaim Larry soal "tidak ada kesalahan dalam dua atau tiga bulan" juga bukan jaminan. FSD membuat kesalahan. Mobil dalam video ini bahkan melewatkan belokan ketika tidak melihat papan restoran Purple Cow. Electrek telah melacak kecelakaan fatal Autopilot dan FSD yang tersembunyi dalam data Tesla selama berbulan-bulan. Larry bertaruh pada peluang yang, setelah cukup banyak kilometer, akan habis. Jika kesalahan terjadi di persimpangan yang ia akui tidak ia awasi, waktu reaksi pria 98 tahun tidak akan cukup.

Pengacara Korban Kecelakaan Punya Bukti Baru

Langkah Musk ini menambah beban hukum Tesla yang terus bertambah. Seluruh pembelaan hukum Tesla dalam kasus kecelakaan FSD dan Autopilot bertumpu pada satu argumen: pengemudi bertanggung jawab, karena pengemudi seharusnya mengawasi.

Lalu Musk mempromosikan video seorang pemilik yang mengatakan di depan kamera bahwa ia secara spesifik tidak mengawasi. Electrek melaporkan pada Juni bahwa Tesla mempromosikan penyalahgunaan FSD dalam video resminya sendiri, dari yang menunjukkan pengemudi membuat espresso di belakang kemudi hingga promo Denmark yang penuh pelanggaran lalu lintas. Pada Agustus, Electrek meliput pemilik Tesla yang merekam diri mereka melanggar hukum menggunakan FSD demi popularitas. Pola yang sama, kini dengan cap persetujuan langsung dari CEO.

Juri Florida sudah menyatakan Tesla bertanggung jawab sebagian dalam kecelakaan fatal Autopilot dan menjatuhkan putusan senilai 243 juta dolar AS (sekitar Rp 3,9 triliun). Perusahaan menghadapi tuntutan hingga 14,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 232 triliun) dalam sekitar dua lusin kasus terpisah. Setiap pengacara penggugat dalam tumpukan itu kini memiliki klip baru Musk yang secara pribadi mendukung pengemudi yang membanggakan tidak melihat jalan.

Mengapa Ini Penting bagi Pengguna di Indonesia

Meski FSD belum tersedia resmi di Indonesia, kasus ini menjadi peringatan tentang batas antara bantuan mengemudi dan otonom penuh. Produsen mobil di pasar lokal mulai menawarkan fitur ADAS seperti adaptive cruise control dan lane keeping assist. Pemahaman bahwa fitur-fitur ini tetap memerlukan pengawasan penuh menjadi krusial.

Regulator di berbagai negara mulai memperketat pengawasan terhadap klaim kemampuan otonom. Di Amerika Serikat, NHTSA terus menyelidiki insiden yang melibatkan Autopilot dan FSD. Tekanan serupa kemungkinan akan menyusul di pasar lain seiring meningkatnya adopsi teknologi bantuan mengemudi.

Reporter: Nasrul Effendi
Sumber: electrek.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top