LAMPUNG — Rencana itu mengemuka dalam pernyataan Wakil Ketua DPRD Gunungkidul, Heri Nugroho, pada Selasa (18/8/2026). Menurut dia, pengembangan olahraga tidak melulu soal mencetak atlet berprestasi, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat di tingkat akar rumput. "Kesehatan adalah hal yang utama, makanya harus dijaga. Salah satunya dengan rutin berolahraga," ujarnya.
Heri menjelaskan, perhatian DPRD tidak hanya tertuju pada cabang olahraga prestasi di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Olahraga tradisional dan rekreasi yang digawangi Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) juga dinilai perlu mendapat porsi yang setara. Tujuannya jelas: mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga.
Pada APBD Perubahan 2026, jenis bantuan yang paling konkret adalah net dan bola voli. Dua peralatan dasar ini dipilih karena lapangan voli menjadi salah satu sarana yang paling banyak digunakan warga di berbagai padukuhan. Ke depan, DPRD membuka peluang untuk menambah jenis bantuan lain, tetapi tetap menyesuaikan kemampuan keuangan daerah.
"Ke depannya bisa bertambah lagi sebagai bagian untuk penyediaan fasilitas olahraga di masyarakat. Tapi, pelaksanaan juga disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. Rencananya untuk bantuan fasilitas olahraga juga diusulkan di APBD 2027," kata Heri.
Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini, menambahkan perspektif berbeda. Menurut dia, keberadaan fasilitas olahraga di tengah masyarakat memiliki fungsi ganda. Selain menjaga kebugaran fisik, sarana tersebut menjadi titik awal pembibitan atlet secara berkelanjutan.
"Tidak melulu untuk prestasi, tapi dengan olahraga bisa menjaga tubuh tetap sehat. Kalau sehat, maka masyarakat bisa lebih produktif," tutur Endang.
Endang mengingatkan bahwa Pemkab Gunungkidul sebenarnya sudah membangun sejumlah infrastruktur olahraga, terutama saat daerah ini bersiap menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Daerah (Porda) 2025. Renovasi Stadion Handayani serta pembangunan lapangan voli dan tenis di beberapa titik menjadi bukti komitmen tersebut.
Namun, Endang menekankan bahwa pembangunan fasilitas saja tidak cukup. Dibutuhkan partisipasi aktif masyarakat untuk memanfaatkan dan merawat sarana yang sudah ada. Ia meminta agar fasilitas yang telah dibangun tidak terbengkalai dan terus memberikan nilai manfaat bagi warga.
"Harus dimanfaatkan dan dirawat agar tidak mangkrak serta memberikan nilai manfaat," tegasnya.
Dengan masuknya bantuan net dan bola voli dalam APBD Perubahan 2026, warga Gunungkidul diharapkan segera bisa menggunakan sarana tersebut untuk kegiatan rutin. Program ini juga menjadi sinyal bahwa pembangunan olahraga di Bumi Handayani tidak berhenti pada proyek fisik berskala besar, tetapi menyentuh kebutuhan langsung masyarakat di tingkat bawah.