LAMPUNG — Proyeksi pendapatan tersebut dibagikan langsung oleh manajemen Anthropic kepada para investornya, seperti dilansir Bloomberg pada Selasa (18/8/2026). Angka ini dihitung berdasarkan run rate, sebuah metrik yang mengekstrapolasi kinerja penjualan saat ini untuk memperkirakan total pendapatan dalam setahun penuh.
Lonjakan run rate ini menjadi sinyal kuat bagi pasar modal global. Kenaikan dari USD47 miliar menjadi USD65 miliar hanya dalam kurun waktu tiga bulan menunjukkan adopsi teknologi AI generatif di kalangan korporasi masih berjalan masif, dan Claude menjadi salah satu pemain utamanya.
Pertumbuhan Anthropic tidak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai kompetitor langsung OpenAI dan Google dalam pengembangan model bahasa besar (large language model/LLM). Claude dikenal sebagai salah satu model AI dengan kemampuan penalaran dan keamanan terbaik, yang membuatnya banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan di sektor keuangan dan hukum.
Kenaikan pendapatan yang hampir 40 persen dalam tiga bulan terakhir ini mengindikasikan bahwa kontrak korporasi skala besar terus mengalir masuk. Bagi investor, angka ini menjadi pembanding utama ketika menilai valuasi perusahaan teknologi yang akan melantai di bursa.
Anthropic telah mengajukan dokumen pendaftaran ke otoritas pasar modal Amerika Serikat (AS) pada awal tahun ini. Rencana initial public offering (IPO) tersebut dijadwalkan berlangsung pada kuartal terakhir 2026.
Jika terealisasi, IPO Anthropic diprediksi akan menjadi salah satu aksi korporasi terbesar di sektor teknologi tahun ini. Hal ini berpotensi menyerap likuiditas global yang selama ini banyak ditempatkan di saham-saham teknologi besar seperti Nvidia dan Microsoft.
Bagi investor ritel di Asia, termasuk Indonesia, IPO ini membuka peluang untuk memiliki eksposur langsung ke perusahaan AI murni (pure play) yang selama ini hanya bisa diakses melalui dana ventura atau investor institusi. Namun, perlu dicatat bahwa valuasi perusahaan AI saat ini berada di level yang sangat tinggi dibandingkan pendapatan aktualnya.
Perusahaan-perusahaan AI global memang tengah berada dalam fase ekspansi agresif dengan belanja modal besar untuk infrastruktur komputasi. Pola ini serupa dengan era awal perusahaan cloud computing satu dekade lalu, di mana pertumbuhan pendapatan menjadi fokus utama sebelum profitabilitas.
Kabar ini juga menjadi sentimen positif bagi ekosistem AI di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika serta pelaku industri lokal tengah mendorong adopsi AI di sektor pemerintahan dan swasta. Keberhasilan IPO Anthropic bisa menjadi katalis bagi startup AI lokal untuk mulai mempertimbangkan akses ke pasar modal sebagai jalur pendanaan ekspansi.
Investasi mengandung risiko.