LAMPUNG — ASX VR-e bukan sekadar model listrik baru. Ini adalah pernyataan ambisi Mitsubishi setelah sekian lama hanya mengandalkan mesin konvensional di pasar global. Mobil ini akan masuk pasar Australia pada kuartal keempat 2026, dan posisinya langsung bersaing dengan nama-nama besar seperti Tesla Model Y, Toyota bZ4X, dan Nissan Ariya.
Dari segi spesifikasi, angka yang ditawarkan memang bikin alis terangkat. Tenaga 407 HP berasal dari dua motor listrik (dual motor) yang menggerakkan keempat roda. Jarak tempuh 440 km sekali cas (standar WLTP) menempatkannya di kelas menengah—bukan yang terjauh, tapi cukup untuk kebutuhan harian dan perjalanan antar kota.
Dengan tenaga sebesar itu, ASX VR-e jelas bukan EV kaleng-kaleng. Akselerasi 0-100 km/jam dipatok di kisaran 5,9 detik—angka yang membuatnya lebih cepat dari Toyota bZ4X AWD dan sejajar dengan Tesla Model Y Long Range. Tenaga ini disalurkan lewat sistem penggerak semua roda (AWD) yang diklaim Mitsubishi mampu memberikan traksi optimal di berbagai kondisi jalan.
Yang menarik, ini bukan sekadar "motor listrik di dua as roda". Mitsubishi menyematkan teknologi kontrol traksi canggih yang terinspirasi dari model off-road mereka. Artinya, meski berstatus city SUV, ASX VR-e tetap punya DNA petualangan khas Mitsubishi.
Kapasitas baterai yang digunakan adalah 65 kWh (kapasitas bruto). Jarak tempuh 440 km (WLTP) terbilang efisien—artinya konsumsi energinya sekitar 6,7 km/kWh. Ini lebih baik dari Hyundai Kona Electric (sekitar 6,1 km/kWh) dan setara dengan Kia Niro EV.
Namun perlu dicatat, angka WLTP biasanya lebih optimistis dari kondisi real-world. Untuk pemakaian dalam kota dengan macet dan AC menyala, ekspektasi realistisnya ada di kisaran 350-380 km. Untuk pengguna Indonesia yang terbiasa dengan mobil bensin, jarak ini masih sangat cukup untuk pemakaian harian—bahkan untuk perjalanan Jakarta-Bandung pulang pergi tanpa perlu cas di tengah jalan.
Mitsubishi membekali ASX VR-e dengan kemampuan fast charging DC hingga 150 kW. Dari kondisi baterai 10% ke 80%, mobil ini butuh waktu sekitar 25 menit. Ini standar yang baik di kelasnya—lebih cepat dari Nissan Ariya (130 kW) dan setara dengan Tesla Model Y.
Untuk charging di rumah, mobil ini mendukung AC charging 11 kW. Dari kosong ke penuh, butuh waktu sekitar 6,5 jam—cocok untuk dicas semalaman di garasi.
Perlu diketahui, ASX VR-e sebenarnya berbagi basis dengan Renault Scenic E-Tech. Mitsubishi dan Renault memang punya aliansi, dan ini terlihat dari desain interior yang hampir identik—termasuk layar sentral 12 inci dan panel instrumen digital 12,3 inci. Ini bukan hal buruk, karena Scenic E-Tech sudah mendapat pujian untuk kualitas kabinnya.
Fitur keselamatan juga lengkap: adaptive cruise control, lane keeping assist, blind spot monitoring, dan kamera 360 derajat. Ada juga fitur Vehicle-to-Load (V2L) yang memungkinkan mobil menjadi sumber listrik untuk peralatan eksternal—berguna untuk berkemah atau saat listrik padam.
Harga resmi untuk pasar Australia belum diumumkan, tapi estimasi dari sumber industri menyebut angka mulai AUD 65.000—sekitar Rp 700 jutaan dengan kurs Rp 10.800 per AUD. Ini menempatkannya di segmen yang sama dengan Tesla Model Y RWD (AUD 55.900) dan Toyota bZ4X AWD (AUD 66.000).
Untuk pasar Indonesia, belum ada indikasi kapan model ini masuk. Namun melihat tren Mitsubishi yang agresif meluncurkan XForce dan Pajero Sport di pasar kita, bukan tidak mungkin ASX VR-e menjadi kandidat kuat—terutama jika pemerintah terus mendorong adopsi EV dengan insentif.
ASX VR-e adalah langkah berani Mitsubishi. Tenaga 407 HP dan jarak tempuh 440 km membuatnya kompetitif di kelasnya. Namun, harga premium dan ketergantungan pada infrastruktur charging jadi catatan penting.
Mobil ini cocok untuk kamu yang mencari SUV listrik dengan performa garang, punya budget di atas Rp 700 jutaan, dan sudah punya akses mudah ke charging station. Kalau kebutuhanmu cuma city car listrik yang irit biaya, ada pilihan lebih murah di kelas bawah. Tapi kalau mau EV yang bisa diajak ngacir sekaligus muat barang banyak, ASX VR-e layak masuk radar.