LAMPUNG — Pemerintah semakin jelas memprioritaskan pengembangan kendaraan listrik berbasis nikel. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa insentif untuk baterai tipe NMC akan menjadi salah satu strategi utama untuk memperkuat pasar mobil listrik nasional. Pernyataan tersebut disampaikannya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Senin.
"Ke depan akan ke sana. (Insentif NMC menjadi) bagian salah satu strateginya," ujar Bahlil.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Indonesia tidak memiliki bahan baku untuk memproduksi baterai LFP, sehingga fokus pengembangan ekosistem kendaraan listrik diarahkan sepenuhnya pada teknologi berbasis nikel yang bahan bakunya melimpah di dalam negeri.
Bahlil menegaskan bahwa dari sisi performa, baterai berbasis nikel memiliki keunggulan signifikan dibandingkan LFP, terutama untuk penggunaan jarak jauh. Menurutnya, teknologi LFP lebih cocok untuk kendaraan dengan mobilitas pendek.
"Kalau jarak-jarak pendek itu LFP biasanya, tetapi kalau jarak panjang itu nikel masih lebih paten," ucapnya.
Meski diakui harga kendaraan listrik berbaterai NMC lebih mahal, Bahlil meyakini keunggulan teknis tersebut sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan konsumen.
Rencana insentif ini merupakan bagian dari paket stimulus kendaraan listrik yang tengah disiapkan pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengungkapkan target penjualan untuk tahun ini mencakup 100 ribu unit mobil listrik dan 100 ribu unit sepeda motor listrik.
Untuk sepeda motor listrik, pemerintah menganggarkan insentif Rp5 juta per unit. Sementara untuk mobil listrik murni (EV), insentif diberikan dalam bentuk Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 40–100 persen. Skema ini tidak mencakup kendaraan hibrida.
Menariknya, besaran insentif PPN DTP untuk mobil listrik akan dibedakan berdasarkan jenis baterai yang digunakan, yakni baterai nikel dan non-nikel. Hal ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memberi perlakuan khusus pada teknologi yang bahan bakunya bisa diproduksi di dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan, pemberian insentif ini nantinya akan dikaitkan dengan program pengembangan motor dan mobil listrik nasional. Pemerintah masih mengkaji bentuk final serta waktu implementasi kebijakan ini untuk memastikan dampaknya optimal bagi industri.
Hingga kini, keputusan final terkait skema dan jadwal pemberian insentif belum diumumkan. Namun, arah kebijakan yang jelas terhadap teknologi NMC memberikan sinyal kuat bagi para produsen otomotif untuk menyesuaikan strategi produk mereka di pasar Indonesia.