LAMPUNG — Lenovo kembali mencoba peruntungannya di segmen tablet produktivitas dengan menghadirkan IdeaTab Pro Gen 2. Berbeda dari generasi sebelumnya, tablet ini datang dengan pendekatan agresif: layar besar super tajam, chipset kelas atas, dan paket penjualan yang sudah mencakup keyboard serta stylus, semua dibanderol di bawah Rp 10 juta. Kami menguji perangkat ini selama beberapa hari untuk melihat apakah klaim "pengganti laptop" itu sekadar gimmick pemasaran atau benar-benar terwujud.
Bagian paling menonjol dari IdeaTab Pro Gen 2 adalah layar PureSight Pro 13 inci dengan resolusi 3.5K (3504 x 2190 piksel). Kerapatan pikselnya sangat tinggi, membuat teks dan gambar terlihat sangat tajam. Refresh rate 144Hz juga membuat animasi dan scrolling terasa sangat responsif, sesuatu yang jarang ditemui di kelas harga ini.
Dengan kecerahan puncak sekitar 625 nits, panel IPS ini masih cukup nyaman digunakan di bawah sinar matahari langsung. Lenovo juga menyediakan dua mode warna, "Vibrant" dan "Standard". Mode Vibrant memberikan tampilan yang lebih hidup dan jenuh, cocok untuk konsumsi media, sementara mode Standard mengejar akurasi warna untuk kebutuhan penyuntingan foto atau desain ringan.
Untuk pengguna yang lebih fokus menulis atau menggambar, ada varian Matte Edition Display yang mengurangi pantulan cahaya secara signifikan. Permukaannya yang bertekstur seperti kertas membuat goresan stylus terasa lebih natural, meski konsekuensinya adalah tampilan layar yang sedikit lebih redup dan kurang "glossy" dibanding varian standar.
Lenovo membekali tablet ini dengan chipset Snapdragon 8s Gen 4. Dalam penggunaan sehari-hari, perangkat ini terasa sangat lincah. Membuka banyak aplikasi, berpindah tab browser, dan melakukan split-screen untuk mencatat sambil browsing berjalan mulus tanpa lag yang berarti. Ini adalah peningkatan signifikan dari tablet kelas menengah pada umumnya.
Untuk gaming, chipset ini jelas mampu menjalankan game berat dengan setting grafis tinggi. Namun, perlu dicatat bahwa pengujian kami belum sampai pada sesi gaming marathon yang panjang. Soal thermal throttling atau penurunan performa saat dipakai gaming berjam-jam, ini masih perlu pengujian lebih lanjut. Fitur AI dari Lenovo juga sudah tertanam, namun seberapa besar dampaknya pada efisiensi kerja harian masih perlu eksplorasi lebih dalam.
Nilai jual terbesar dari paket penjualan ini adalah kelengkapan aksesorisnya. Keyboard yang disertakan terasa solid dan memiliki travel key yang nyaman untuk mengetik dalam waktu lama. Trackpad-nya juga responsif, meski gestur multi-sentuhnya mungkin tidak selancar di laptop Windows atau macOS. Stylus-nya juga sangat membantu untuk mencatat tangan atau membuat sketsa, dengan tingkat responsivitas yang baik berkat refresh rate layar yang tinggi.
Dengan paket ini, IdeaTab Pro Gen 2 memang terasa seperti sebuah laptop 2-in-1. Untuk kebutuhan seperti menulis dokumen, membalas email, browsing, dan menonton video, tablet ini bisa menjadi pengganti laptop yang valid. Namun, ada satu kelemahan besar yang perlu diperhatikan: sistem operasinya masih Android.
Meski secara hardware sangat mumpuni, Android tetap menjadi pembatas utama. Aplikasi produktivitas seperti Google Docs atau Microsoft Office berjalan dengan baik, tetapi tidak sekuat versi desktop. Multitasking dengan banyak window juga masih terasa kurang intuitif dibanding desktop OS.
Beberapa aplikasi tertentu, terutama yang dirancang khusus untuk desktop, tidak akan berjalan atau memiliki fitur yang terbatas di Android. Jadi, jika pekerjaan Anda bergantung pada aplikasi desktop spesifik, tablet ini tidak akan bisa menggantikan laptop Anda. IdeaTab Pro Gen 2 lebih cocok sebagai pendamping laptop untuk kebutuhan ringan, atau sebagai pengganti laptop bagi pengguna yang aktivitasnya hanya seputar browsing, mengetik, dan media sosial.
Lenovo IdeaTab Pro Gen 2 adalah tablet Android yang sangat menarik dengan harga di bawah Rp 10 juta. Layarnya luar biasa, performanya kencang, dan paket keyboard serta stylus yang lengkap menjadikannya nilai jual yang sangat kuat. Ini adalah pilihan tepat bagi mahasiswa atau pekerja kantoran yang butuh perangkat ringkas untuk produktivitas ringan dan hiburan.
Kelebihan:
Kekurangan:
Untuk pengguna yang membutuhkan perangkat hybrid untuk produktivitas ringan dan konsumsi media, tablet ini sangat direkomendasikan. Namun, jika pekerjaan Anda membutuhkan aplikasi desktop full-featured, Anda tetap memerlukan laptop tradisional.