JAKARTA — Rupiah dibuka melemah 37 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp17.944 per dolar AS pada perdagangan Rabu (1/7/2026), berdasarkan data Bloomberg. Mata uang Garuda melanjutkan tren negatif dari penutupan sebelumnya yang berada di Rp17.907 per USD. Sementara itu, mengacu pada Yahoo Finance, rupiah bergerak datar di level Rp17.957 per USD dibandingkan pembukaan kemarin.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, berada di rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS. Sentimen eksternal masih didominasi oleh ketegangan geopolitik AS-Iran yang kembali memanas setelah serangan rudal akhir pekan lalu. Di sisi lain, pasar juga mengantisipasi sikap hawkish Federal Reserve yang memberi sinyal kenaikan suku bunga setidaknya sekali tahun ini.
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada data inflasi Juni yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dan neraca perdagangan periode Mei. Ibrahim mencatat, inflasi pada Mei sudah mendekati batas atas target Bank Indonesia, terutama didorong oleh kenaikan harga pangan. "Secara agregat nasional stabilitas harga dan konsumsi masih terkendali. Namun, pergerakan inflasi di beberapa daerah menunjukkan alarm, khususnya Sumatra yang mencatatkan tekanan harga relatif lebih tinggi daripada wilayah lain," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Rabu (1/7/2026).
Bagi Provinsi Lampung yang berada di Sumatra, tekanan inflasi yang lebih tinggi dari rata-rata nasional menjadi sinyal waspada. Kenaikan harga pangan dan barang kebutuhan pokok berpotensi menggerus daya beli masyarakat, terutama jika pelemahan rupiah berlanjut dan membuat biaya impor bahan baku semakin mahal. Pelaku UMKM dan pedagang pasar tradisional di kota-kota seperti Bandar Lampung, Metro, dan Lampung Selatan perlu mencermati pergerakan harga dalam beberapa pekan ke depan.
Pelaku pasar saat ini masih wait and see menanti rilis data ekonomi utama pekan ini. Laporan neraca perdagangan Mei akan menjadi indikator ketahanan eksternal Indonesia, sementara data inflasi Juni akan menentukan langkah Bank Indonesia ke depan dalam menahan pelemahan rupiah. Jika inflasi Sumatra kembali melonjak, tekanan terhadap nilai tukar dan daya beli masyarakat di daerah diprediksi semakin terasa.