BANDAR LAMPUNG — Sebanyak 300 pedagang daging sapi di Bandar Lampung mogok berjualan mulai Senin (22/6/2026). Keputusan ini diambil setelah harga sapi hidup dari feedloter dan peternak terus merangkak naik dalam enam bulan terakhir, sementara harga jual daging di kios terpaksa ditahan demi mempertahankan pelanggan.
Menurut Tampan Sujarwadi yang juga pemilik kios Subaru Daging Sapi di Pasar Tamin, kenaikan harga sapi hidup sudah terasa sejak Desember 2025. “Jika sebelumnya Rp50 ribu per kg saat ini menyentuh angka Rp60 ribu per kg,” katanya, Minggu (21/6/2026). Estimasi kenaikan per ekor sapi mencapai Rp5-6 juta.
Meskipun harga di tingkat peternak naik, para pedagang di pasar memilih bertahan dengan harga lama. Daging standar yang biasa dijual ke pedagang bakso, katering, dan program MBG masih dipatok Rp130 ribu per kg, sementara daging super di angka Rp140 ribu per kg.
Lama-kelamaan, strategi ini membuat pedagang mengalami kerugian. Tampan menjelaskan bahwa tanpa penyesuaian harga, mustahil mereka bisa bertahan. “Idealnya, saat ini di Bandar Lampung harga daging standar dijual Rp140 ribu per kg dan Rp150 ribu per kg untuk daging super,” paparnya.
Sebagai perbandingan, harga daging sapi di Jakarta saat ini mencapai Rp155.000-160.000 per kg. Artinya, harga di Bandar Lampung masih di bawah rata-rata nasional meskipun biaya produksi sudah naik.
Para pedagang memilih mogok berjualan hingga ada kesepakatan harga baru yang bisa menutupi biaya produksi. Belum ada kepastian kapan aksi ini akan berakhir. PPD Bandar Lampung masih menunggu respons dari peternak dan pihak terkait untuk mencari solusi bersama.
Dengan mogoknya 300 pedagang, pasokan daging sapi di sejumlah pasar tradisional Bandar Lampung dipastikan terganggu. Pedagang bakso, katering, dan rumah makan yang biasa bergantung pada pasokan mereka juga ikut terdampak.