Lapas Kelas I Bandar Lampung Kini Jadi Pusat Pembinaan Kepribadian, Warga Binaan Dibekali Skill Musik hingga Pramuka

Penulis: Nasrul Effendi  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 21:14:31 WIB
Warga binaan Lapas Kelas I Bandar Lampung mengikuti latihan musik sebagai bagian dari pembinaan kepribadian.

BANDAR LAMPUNG — Anggapan bahwa Lapas hanya tempat mengurung orang bersalah mulai luntur di Bandar Lampung. Lapas Kelas I setempat kini menjelma menjadi pusat pembinaan kepribadian yang menyasar aspek spiritual, kesenian, hingga kedisiplinan.

Kepala Lapas Kelas I Bandar Lampung, Ike Rahmawati, menyebut bahwa pendekatan ini merupakan fungsi pemasyarakatan yang sesungguhnya. "Lapas bukan lagi sekadar tempat pemidanaan atau tempat mengurung orang yang bersalah," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.

Dari Band hingga Paduan Suara: Seni sebagai Terapi Mental

Bakat musik para warga binaan difasilitasi melalui grup Band Lapas. Mereka tidak sekadar mengisi waktu luang, tetapi dilatih secara disiplin hingga mampu membawakan berbagai genre musik dengan harmonis.

Selain musik modern, ada pula kelompok Paduan Suara yang kerap menghiasi acara resmi di dalam lapas. Kegiatan ini menjadi sarana memupuk rasa kebersamaan dan kerja sama tim di antara warga binaan.

Pramuka hingga Senam Jasmani: Membentuk Karakter dan Kebugaran

Pembinaan kepribadian diperkuat lewat gerakan Pramuka. Melalui kegiatan baris-berbaris dan simulasi ketangkasan, para warga binaan ditempa memiliki jiwa nasionalisme, kedisiplinan, serta rasa tanggung jawab.

Kesehatan fisik juga jadi prioritas. Setiap pekan, lapas menggelar Senam Jasmani WBP di bawah sinar matahari pagi. Gerakan instruktif yang enerjik ini terbukti efektif menjaga imunitas dan membakar semangat positif para warga binaan.

Pembinaan Spiritual untuk Semua Agama: Islam, Nasrani, hingga Buddha

Pembinaan mental spiritual menjadi pilar utama di Lapas Kelas I Bandar Lampung. Berpegang pada prinsip toleransi dan hak asasi, kegiatan kerohanian diakomodasi secara adil untuk seluruh pemeluk agama.

  • Islam: Diisi dengan pesantren kilat, mengaji Al-Qur'an, dan kajian keagamaan rutin di masjid lapas.
  • Nasrani: Diisi dengan ibadah kebaktian berkala dan pendalaman Alkitab di gereja lapas.
  • Buddha: Diisi dengan meditasi dan puja bakti di vihara lapas untuk menjaga ketenangan batin.

Ike Rahmawati memastikan bahwa hak-hak spiritual dan pengembangan diri warga binaan tetap terpenuhi selama di dalam lapas. "Ketika mereka bebas nanti, mereka tidak hanya membawa surat lepas, tetapi juga membawa karakter baru yang lebih baik, iman yang lebih kuat, serta keterampilan yang bermanfaat bagi masyarakat," ungkapnya.

Melalui pendekatan komprehensif ini, Lapas Kelas I Bandar Lampung membuktikan bahwa di balik jeruji besi, harapan baru dan masa depan yang lebih cerah masih bisa dirajut kembali.

Reporter: Nasrul Effendi
Sumber: betiklampung.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top