LAMPUNG — Kado kemerdekaan datang lebih awal bagi warga Kampung Sum. Setelah bertahun-tahun hidup dalam gelap, aliran listrik dari PLN akhirnya menyala penuh selama 24 jam. Infrastruktur anyar ini bukan sekadar penerangan—ia menjadi fondasi bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang selama ini terhambat.
Mewujudkan listrik di Kampung Sum bukan pekerjaan mudah. Tim gabungan PLN harus berhadapan dengan hutan lebat dan cuaca ekstrem yang menyulitkan mobilisasi tiang serta kabel. Akses geografis yang menantang membuat proses pembangunan infrastruktur berlangsung lambat dan penuh perhitungan.
PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 4,48 kilometer sirkuit (kms) dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 1,69 kms. Satu unit gardu distribusi berkapasitas 50 kilovolt-ampere (kVA) juga dipasang untuk menjamin pasokan energi bersih dan stabil. Kampung Sum kini disuplai dari sistem kelistrikan Tetar.
Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, yang hadir langsung di tengah masyarakat, menegaskan bahwa kehadiran listrik ini adalah kerja nyata pemerintah daerah bersama PLN. "Kehadiran listrik bukan lagi sekadar impian bagi warga Kampung Sum. Ini adalah wujud kerja nyata pemerintah daerah bersama PLN untuk memastikan tidak ada lagi wilayah yang gelap gulita," ujarnya.
Samaun menambahkan, listrik akan meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan. "Listrik juga akan membuka akses terhadap informasi dan teknologi yang pada akhirnya mendorong percepatan pembangunan," kata dia.
Manager Komunikasi dan TJSL PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat, Irfan Djabar, menjelaskan bahwa program BPBL merupakan kolaborasi PLN dengan pemerintah untuk menyasar keluarga kurang mampu. "Tidak hanya meningkatkan keandalan pasokan, kolaborasi ini juga memberikan akses energi secara gratis bagi keluarga kurang mampu di wilayah tersebut," tulis Irfan dalam pernyataan resminya.
General Manager PLN UIW Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur, menegaskan bahwa pengoperasian jaringan di Kampung Sum adalah bagian dari komitmen mewujudkan kemerdekaan energi di pelosok Papua. "Kami ingin memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat, termasuk di wilayah pedesaan Fakfak, merasakan kemerdekaan dalam mengakses energi listrik," jelas Roberth.
Menurut Roberth, berkat dukungan masyarakat dan pemerintah daerah, pekerjaan yang sempat terhambat kondisi alam akhirnya rampung. "Sehingga warga kini dapat menikmati penerangan secara maksimal. Komitmen PLN tidak akan pernah surut untuk menghadirkan terang hingga ke wilayah pelosok," ujarnya.
Masuknya infrastruktur kelistrikan andal ini langsung terasa. Anak-anak Kampung Sum kini bisa belajar di malam hari dengan penerangan memadai, sementara potensi usaha rumahan warga mulai bergerak. Listrik mengubah ritme kehidupan yang tadinya berhenti saat matahari terbenam.
Langkah ini sekaligus mempertegas konsistensi PLN dalam menghadirkan keadilan energi di tanah Papua, memastikan kemerdekaan tidak hanya diartikan sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari kegelapan.