LAMPUNG — SpaceX meneken kesepakatan akuisisi lisensi spektrum radio senilai sekitar USD 8 miliar (setara Rp 143 triliun) untuk mengubah Starlink Mobile menjadi operator seluler utama keempat di Amerika Serikat. Langkah ini menempatkan layanan satelit milik Elon Musk itu bersaing langsung dengan AT&T, T-Mobile, dan Verizon. Deutsche Telekom, induk T-Mobile, langsung meragukan ambisi tersebut.
Lisensi spektrum yang dibeli SpaceX disebut Elon Musk sebagai kepingan terakhir yang dibutuhkan perusahaannya untuk menyediakan jangkauan telepon menyeluruh di Amerika Serikat. Akuisisi ini juga membuka jalan bagi Starlink Mobile menawarkan layanan seluler yang menjangkau di dalam gedung, sesuatu yang selama ini jadi kelemahan layanan berbasis satelit.
SpaceX mengincar kombinasi satelit generasi berikutnya dan menara BTS untuk memperluas jangkauan. Perusahaan belum memastikan kapan Starlink Mobile benar-benar beroperasi sebagai operator sendiri.
CEO Deutsche Telekom Timotheus Hottges mempertanyakan urgensi layanan satelit ketika operator tradisional sudah menyediakan jangkauan memadai. "Mengapa saya harus melakukan panggilan melalui jaringan satelit ketika saya sudah bisa mendapatkan jangkauan yang baik atau jangkauan terbaik, saat ini?" kata Hottges.
Hottges juga memperingatkan operator lain agar menghindari kemitraan reselling dengan SpaceX. Menurutnya, skema MVNO (operator jaringan virtual seluler) berisiko menggerus bisnis operator itu sendiri.
"Beralih ke apa yang dikenal sebagai MVNO melibatkan risiko signifikan, karena jika harga untuk akses tersebut rendah, Anda akan menempatkan harga ritel Anda sendiri di bawah tekanan," ujarnya. "MVNO hanya menguntungkan dalam pemanfaatan infrastruktur, namun kemudian merugikan Anda dengan pelanggan ritel Anda sendiri."
Kritik ini menarik karena T-Mobile justru mitra eksklusif SpaceX pada versi pertama Starlink Mobile, yang dijuluki T-Satellite. Beberapa bulan terakhir, T-Mobile terlihat mengecilkan proyek tersebut sembari membuka kemungkinan bermitra dengan penyedia satelit lain.
CTO T-Mobile John Saw menilai SpaceX masih perlu menghabiskan puluhan miliar dolar tambahan untuk membeli spektrum radio dan membangun infrastruktur darat. Hottges melangkah lebih jauh dengan menyoroti jumlah menara yang sudah dimiliki operator mapan.
"Kami punya 85.000 antena seluler di Amerika. Elon Musk harus membangun semua itu terlebih dahulu," kata Hottges. Ia menambahkan bahwa sebelum mencapai posisi sebagai operator, SpaceX masih harus melewati banyak rintangan dan menggelontorkan dana sangat besar.
Salah satu kelemahan yang sering dikritik dari layanan satelit adalah jangkauan dalam ruangan. Satelit yang letaknya sangat jauh dinilai sulit menembus gedung, terutama di wilayah padat penduduk, dibandingkan menara seluler konvensional.
"Ketika Anda masuk ke perkotaan, di mana jutaan orang terus-menerus menggunakan ponsel, saya harus bertanya bagaimana Anda akan menangani lalu lintas data tersebut menggunakan spektrum radio satelit?" tanya Hottges.
SpaceX mengindikasikan rencana membangun menara seluler untuk Starlink Mobile. Komisi Komunikasi Federal (FCC) AS tampak berharap kehadiran Starlink menciptakan persaingan lebih sehat di pasar telekomunikasi Amerika.
Perusahaan sedang merancang satelit generasi kedua yang diklaim mampu menawarkan kecepatan 5G hingga 150Mbps per pengguna. Satelit tersebut dijadwalkan mulai meluncur tahun depan.
Bagi pasar Indonesia, tarik-menarik ini jadi cermin bagaimana operator satelit dan seluler berebut spektrum serta pelanggan. Starlink sendiri sudah beroperasi di Tanah Air lewat skema layanan broadband, meski belum masuk segmen seluler ritel.