METRO — Pemkot Metro menargetkan kunjungan ke satu sekolah setiap hari agar edukasi memilah sampah merata di seluruh jenjang pendidikan negeri. Jika ada sekolah yang lokasinya berdekatan, terutama di kawasan Metro Pusat, pelaksanaan kegiatan bisa digabung supaya lebih efektif dan efisien.
Pemilihan TK Negeri 2 Metro Utara sebagai lokasi peluncuran perdana bukan tanpa alasan. Kelurahan Karangrejo merupakan lokasi Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) yang menjadi salah satu pusat penanganan sampah Kota Metro, sehingga warga di sekitarnya paling merasakan dampak penumpukan sampah perkotaan.
Rafieq menyebut keberadaan TPAS tidak boleh membuat persoalan sampah hanya dipandang sebagai urusan pengangkutan dan penumpukan di tempat pemrosesan akhir. Pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya, termasuk rumah tangga dan sekolah.
“Kenapa TK Negeri 2 Metro Utara menjadi lokasi peluncuran perdana? Karena di Kelurahan Karangrejo terdapat TPAS yang menjadi pusat sampah kita di Kota Metro. Sehingga, Kelurahan Karangrejo menjadi prioritas kita karena masyarakat di wilayah ini turut terdampak penumpukan sampah Kota Metro,” ungkap Rafieq.
Semakin banyak sampah yang dipilah dan dimanfaatkan kembali, semakin besar peluang mengurangi sampah anorganik yang berakhir di TPAS. Upaya itu tetap perlu didukung pengelolaan sampah yang menyeluruh.
Rafieq menegaskan pendidikan soal pengelolaan sampah tidak cukup disampaikan lewat teori di ruang kelas. Kebiasaan itu perlu dibiasakan melalui tindakan nyata yang konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.
“Yang pertama, targetnya agar bisa menanamkan budaya memilah dan memproses sampah sejak masih kecil sekali. Yang kedua, jelas kita ingin sekali mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPAS Karangrejo dan mengurangi sampah yang beredar di lingkungan,” kata dia saat diwawancarai awak media, Senin (12/10/2026).
Persoalan sampah, lanjut Rafieq, membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas kebersihan maupun pemerintah. Sekolah dinilai punya posisi strategis untuk membentuk generasi yang bertanggung jawab terhadap limbah dari aktivitas sehari-hari.
Program ini memperkenalkan konsep ekonomi sirkular melalui aktivitas sederhana yang mudah dipahami pelajar. Sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, kardus, dan kaleng yang masih bisa didaur ulang dikumpulkan untuk dipilah, ditimbang, lalu disetorkan ke bank sampah.
“Dengan mengenalkan bank sampah, anak-anak jadi tahu bahwa sampah itu masih bernilai rupiah. Sehingga ke depannya mereka dapat semangat dan rajin ke bank sampah untuk menyetorkan sampah di rumah maupun lingkungan sekitarnya,” ucapnya.
Untuk tahap awal, Pemkot Metro memprioritaskan 75 sekolah negeri yang berada di bawah kewenangannya. Rafieq menyebut pihaknya akan mengupayakan kunjungan satu sekolah dalam sehari, dengan kemungkinan menggabungkan kegiatan di beberapa sekolah apabila lokasinya berdekatan.
“Untuk langkah pertama ini, Pemerintah Kota Metro akan menuntaskan sekolah negeri di bawah Pemkot Metro, baik TK, SD, maupun SMP, sebanyak 75 sekolah. Kami akan mengusahakan kunjungan satu sekolah sehari. Namun, jika ada sekolah yang berdekatan, seperti di Metro Pusat, mungkin bisa kita jadikan satu,” tuturnya.