LAMPUNG — ReforMiner Institute menilai kinerja hulu migas nasional berperan sebagai tameng alami APBN dan ketahanan energi di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Lifting minyak nasional stabil di kisaran 576,2–578,2 ribu barel per hari sepanjang kuartal III 2026, sementara salur gas mencapai 94,5 persen target APBN.
Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali menekan rantai pasok dan neraca energi nasional. Lembaga riset ReforMiner Institute menilai risiko yang dihadapi Indonesia bukan sekadar naik-turunnya harga minyak dunia, melainkan ancaman langsung terhadap pasokan energi dan postur fiskal negara.
Dalam catatannya, ReforMiner menyebut kinerja hulu migas nasional kini berfungsi sebagai natural hedging atau tameng alami bagi APBN. Posisi itu sekaligus menopang ketahanan energi, stabilitas makroekonomi, dan menjaga defisit transaksi berjalan agar tidak melebar.
Sepanjang 2026, kinerja hulu migas dinilai cukup tangguh meski dihantui laju penurunan alamiah (decline rate) 15–20 persen per tahun di lapangan-lapangan tua. Realisasi lifting minyak nasional hingga kuartal III 2026 tercatat stabil di kisaran 576,2 hingga 578,2 ribu barel per hari (MBOPD).
Dari sisi gas, salur mencapai 5.208 MMSCFD atau setara 94,5 persen dari target APBN. Capaian itu ditopang sejumlah efisiensi teknologi, mulai dari batch drilling dan dual completion di PHR Zona 4, keandalan Blok Mahato, hingga optimasi sumur masyarakat dan pengurasan dead stock.
Salah satu contohnya adalah Sumur GNK-114 di PHR Zona 4 yang produksi awalnya menyentuh 5.605 BOPD. ReforMiner menyebut 2026 sebagai titik balik (pivotal year) karena sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sempat tertunda akhirnya masuk fase eksekusi fisik.
Proyek pertama adalah LNG Abadi Blok Masela yang digarap Inpex, Pertamina, dan Petronas. Groundbreaking proyek ini dimulai 16 Juli 2026. Berikutnya, Northern Hub Kaltim & IDD milik Eni melalui