LAMPUNG — PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG (SMGR) mengoptimalkan biomassa sebagai bahan bakar alternatif di Pabrik Tuban, Jawa Timur, dengan konsumsi sekam padi mencapai 400 ton per hari. Langkah ini menekan ketergantungan pada energi fosil sekaligus mengurangi emisi produksi semen. Pasokan sekam berasal dari petani dan 10 perusahaan penggilingan padi di Tuban, Lamongan, Bojonegoro, hingga Rembang.
Direktur Utama SIG Indrieffouny Indra menyatakan penggunaan biomassa sejalan dengan Sustainability Roadmap SIG 2030, yang menjadi panduan strategi dan indikator keberlanjutan perusahaan untuk mewujudkan industri hijau serta mendukung target emisi nol bersih (Net Zero Emission).
Jenis biomassa yang dipakai SIG di Pabrik Tuban tidak tunggal. Selain sekam padi, perseroan memanfaatkan cocopeat atau serbuk halus dari sabut kelapa, bonggol jagung, serbuk gergaji, hingga ampas tebu.
Dari sejumlah bahan itu, sekam padi menempati posisi pertama dengan porsi konsumsi terbesar, yakni 400 ton per hari. Pasokan sekam dipasok dari petani dan 10 perusahaan penggilingan padi di wilayah Tuban, Lamongan, Bojonegoro, hingga Rembang.
Pilihan bahan baku yang bervariasi memberi SIG keleluasaan menjaga pasokan energi alternatif, terutama ketika harga atau ketersediaan satu jenis biomassa berfluktuasi mengikuti musim panen.
Indrieffouny menegaskan penggunaan biomassa tidak hanya soal operasional pabrik. Menurutnya, langkah strategis ini turut menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya para petani dan perusahaan penggilingan padi.
”Penggunaan biomassa membantu Perusahaan mendapatkan sumber energi alternatif untuk meningkatkan keandalan operasi dan memperkuat iniastif semen hijau yang rendah emisi. Di saat yang bersamaan, langkah strategis ini turut menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya para petani dan perusahaan penggilingan padi,” katanya dalam keterangan resmi, Rabu (23/9/2026).
Bagi petani di Tuban, Lamongan, Bojonegoro, dan Rembang, sekam yang sebelumnya menjadi limbah penggilingan kini punya pembeli tetap. Aliran pendapatan tambahan itu datang tanpa mengubah siklus tanam yang sudah berjalan.
Substitusi energi fosil dengan biomassa menjadi salah satu jalur yang ditempuh SIG untuk menurunkan intensitas karbon di lini produksi semen. Industri semen dikenal sebagai salah satu penyumbang emisi besar karena proses pembakaran klinker membutuhkan panas tinggi.
Dengan memakai sekam, cocopeat, bonggol jagung, serbuk gergaji, dan ampas tebu, SIG berupaya memangkas porsi batu bara dalam tungku pabrik. Upaya ini sekaligus menjaga keandalan operasi ketika pasokan atau harga energi konvensional bergejolak.
Penutup: Langkah SIG di Pabrik Tuban menunjukkan transisi energi di sektor semen bisa berjalan berbarengan dengan pemberdayaan ekonomi warga sekitar. Keberhasilan model ini akan menentukan seberapa cepat perseroan memenuhi target keberlanjutan 2030-nya.