LAMPUNG — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memangkas emisi karbon hingga 2.238 ton CO2e melalui program efisiensi energi dan pemanfaatan energi baru terbarukan di seluruh lini operasionalnya. Langkah ini menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi TelkomGroup yang menargetkan penurunan emisi Scope 1 dan 2 secara bertahap hingga Net Zero Emission 2060.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi TelkomGroup untuk membangun ekosistem digital yang lebih rendah karbon. Perusahaan menargetkan penurunan emisi Scope 1 dan 2 sebesar 20 persen pada 2030, 40 persen pada 2040, dan 70 persen pada 2050, sebelum mencapai Net Zero Emission pada 2060.
Telkom mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung infrastruktur telekomunikasinya. Penggunaan panel surya dan mikrohidro untuk base transceiver station (BTS) diproyeksikan menghasilkan 13.926 GJ energi pada 2025.
Perusahaan pelat merah itu juga meningkatkan penggunaan biodiesel B30 dan B40 sebagai bagian dari bauran energi operasionalnya. Langkah ini melengkapi upaya efisiensi energi yang sudah berjalan melalui program GePEE.
Infrastruktur ramah lingkungan menjadi pilar lain dalam peta jalan dekarbonisasi Telkom. Perusahaan mengembangkan menara ramah lingkungan yang dapat menekan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 0,099 ton CO2 per menara.
Telkom juga menerapkan liquid tree yang menyerap CO2 dan menghasilkan O2, memanfaatkan green data center, serta menghadirkan layanan Power as a Service di ribuan titik lokasi. Kombinasi ini memperkuat posisi Telkom di sektor infrastruktur digital yang semakin menuntut standar keberlanjutan.
Sebanyak 17 persen kendaraan operasional Telkom telah beralih menggunakan kendaraan listrik (EV). Peralihan ini didukung enam titik Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di lokasi operasional perusahaan.
Di sisi lain, pemanfaatan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS) mampu menghemat sekitar 20.235,6 kWh listrik per tahun. Angka itu menunjukkan efisiensi energi tidak hanya dilakukan di fasilitas utama, tetapi juga di infrastruktur pendukung.
Seluruh inisiatif hijau itu menjadi fondasi TelkomGroup dalam menurunkan intensitas karbon dari operasionalnya. Peta jalan yang ditetapkan perseroan mencakup target jangka pendek, menengah, dan panjang yang terukur.
Pada 2030, Telkom menargetkan penurunan emisi Scope 1 dan 2 sebesar 20 persen. Target itu meningkat menjadi 40 persen pada 2040 dan 70 persen pada 2050, dengan Net Zero Emission sebagai tujuan akhir pada 2060.
Bagi investor, deretan inisiatif ini memperkuat profil environmental, social, dan governance (ESG) Telkom di pasar modal. Perusahaan telekomunikasi dengan komitmen dekarbonisasi yang jelas cenderung memiliki risiko regulasi lebih rendah dan akses pendanaan hijau yang lebih luas di masa depan.