LAMPUNG — Seorang penulis teknologi menceritakan pengalamannya meninggalkan Windows 11 dalam beberapa bulan terakhir. Ia sempat membahas panjang soal preferensinya terhadap Linux dan memang memakai sistem operasi itu di beberapa laptop. Namun, ia menegaskan dirinya bukan pengguna Linux sehari-hari.
Alasannya sederhana. Sekitar 95 persen pekerjaannya dilakukan di komputer desktop, dan perangkat itu bukan PC Linux. Ia bekerja menggunakan Mac Mini M4 yang ia ulas tahun lalu.
Perjalanan sang penulis tidak berakhir di Linux seperti yang mungkin diasumsikan dari pembahasannya selama ini. Komputer desktop yang ia pakai setiap hari justru berjalan di macOS.
Ia mengaku sempat mengeluhkan banyak perilaku macOS saat pertama kali menggunakannya. Keluhan itu muncul di awal masa transisi dari Windows 11. Namun, seiring waktu, penilaiannya berubah.
Mac Mini M4 menjadi perangkat kerja utama penulis tersebut. Perangkat ini sebelumnya ia ulas, dan pengalaman memakai sehari-hari itulah yang kemudian mengubah pandangannya terhadap macOS.
Perubahan sikap ini menarik karena ia bukan penggemar Apple sejak awal. Ia bahkan menyebut dirinya tak pernah membayangkan akan menjadi penggemar Apple. Kesan itu berbalik setelah ia benar-benar bergantung pada Mac Mini M4 untuk pekerjaan harian.
Linux tidak sepenuhnya ditinggalkan. Penulis itu mengaku cukup banyak memakai Linux di sejumlah laptop. Hanya saja, porsi pemakaiannya kecil dibandingkan waktu yang ia habiskan di depan desktop macOS.
Pola ini menunjukkan bahwa perpindahan dari Windows 11 tidak selalu berarti hijrah ke Linux. Bagi sebagian pengguna, macOS menjadi tujuan yang lebih praktis, terutama ketika perangkat desktop menjadi tulang punggung pekerjaan.
Kisah ini relevan bagi pengguna yang sedang mempertimbangkan keluar dari Windows 11. Pilihan sistem operasi pada akhirnya bergantung pada perangkat yang paling sering dipakai, bukan sekadar preferensi terhadap satu platform tertentu.