BANDAR LAMPUNG — Nelayan dan operator kapal di pesisir barat Lampung diminta menahan diri melaut. BMKG memprakirakan gelombang mencapai 3,2–3,4 meter pada awal hari. Kondisi serupa berlaku di Selat Sunda bagian selatan yang masuk kategori gelombang tinggi dengan hembusan angin maksimum hingga 31 knot.
Peringatan ini berlaku untuk periode Senin (7/9/2026). Angin dari arah tenggara di dua wilayah perairan tersebut diperkirakan bertiup 20–25 knot, sebelum melemah menjelang siang. Tinggi gelombang pun berangsur turun ke sekitar 2,9 meter.
BMKG mengategorikan kondisi perairan berdasarkan tinggi gelombang, dari sedang hingga ekstrem. Berikut klasifikasinya:
Dengan standar tersebut, perairan Barat Lampung dan Selat Sunda Selatan masuk kategori gelombang tinggi hari ini. Kapal-kapal kecil dan nelayan yang melintasi jalur itu wajib meningkatkan kewaspadaan.
Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) menjadi sorotan, namun BMKG menegaskan tidak ada ancaman tsunami. Pemantauan InaTEWS hingga 6 September tidak menunjukkan anomali muka laut di Selat Sunda.
“Masyarakat pesisir Banten dan Lampung tetap diminta tenang dan mengikuti informasi resmi,” demikian pernyataan BMKG dalam keterangan resminya.
Untuk pelayaran rute Bakauheni–Merak, fokus kewaspadaan justru tertuju pada gelombang dan angin, terutama di bagian selatan Selat Sunda. Aspek ini perlu dibedakan dari potensi bahaya erupsi GAK yang hingga kini tidak berdampak signifikan terhadap permukaan laut.
Berbanding terbalik dengan wilayah barat, perairan timur Lampung dan Teluk Lampung diprakirakan tenang. BMKG mencatat gelombang di Teluk Lampung bagian utara stabil di angka 1,1 meter.
Kendati demikian, kecepatan angin di kawasan ini diprediksi meningkat pada siang hingga sore hari mencapai sekitar 15 knot. Aktivitas pelayaran dan perikanan di wilayah tersebut diperkirakan tetap berjalan normal dengan mematuhi protokol keselamatan.