Rektor UBL Bandarlampung: Kedaulatan Bangsa Dibangun dari Ruang Kelas, Bukan Hanya di Perbatasan

Penulis: Rizky Firmansyah  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 14:33:01 WIB
Ratusan sivitas akademika Universitas Bandar Lampung mengikuti upacara peringatan detik-detik Proklamasi di lingkungan kampus setempat, Senin (17/8).

BANDARLAMPUNG — Upacara peringatan detik-detik Proklamasi di lingkungan Universitas Bandar Lampung (UBL) berlangsung khidmat, Senin (17/8). Momentum 81 tahun kemerdekaan ini dijadikan kampus untuk menanamkan kembali nilai keberanian, persatuan, dan pengorbanan kepada seluruh sivitas akademika, terutama ribuan mahasiswa baru yang baru bergabung.

Dalam amanatnya, Rektor UBL, Prof. Dr. Ir. M. Yusuf S. Barusman, MBA., menyebut kemerdekaan bukan sekadar peristiwa bersejarah yang dirayakan tahunan. Ia menekankan bahwa semangat kemerdekaan harus diwujudkan dalam kontribusi nyata, bukan hanya seremoni pengibaran bendera.

Kampus Garda Terdepan Kedaulatan Modern

Yusuf menjelaskan, tantangan kedaulatan bangsa di era kini telah bergeser. Menurutnya, Indonesia akan mampu berdiri tegak jika generasi penerusnya mampu berpikir mandiri, menciptakan teknologi, dan mengelola sumber daya alam secara bijaksana tanpa kehilangan jati diri.

"Bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang mampu berpikir dengan kemampuannya sendiri, menciptakan teknologi, mengelola sumber dayanya secara bijaksana, dan menyelesaikan persoalannya tanpa kehilangan jati diri," ujarnya di hadapan peserta upacara.

Perguruan tinggi, lanjut Yusuf, memiliki posisi strategis sebagai lokomotif kemajuan. Gagasan dan inovasi yang lahir dari ruang diskusi, perpustakaan, dan pusat penelitian kampus menjadi modal utama pembangunan jangka panjang.

Keadilan Akademik dan Kemakmuran yang Setara

Lebih jauh, Rektor UBL memaknai keadilan dalam konteks pendidikan tinggi sebagai kesempatan belajar yang setara bagi seluruh mahasiswa. Kampus disebutnya harus menjadi ruang akademik yang aman dan memberi perhatian lebih kepada mereka yang membutuhkan dukungan untuk berkembang.

Sementara itu, kemakmuran tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi. Yusuf menekankan pentingnya peningkatan kualitas hidup, terbukanya lapangan kerja, serta tumbuhnya kreativitas yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat luas.

Penelitian Harus Melahirkan Solusi, Bukan Sekadar Laporan

Rektor mengingatkan agar seluruh kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat—memberikan dampak terukur. Ia mengkritisi budaya akademik yang berhenti pada tataran formalitas.

"Kita ingin penelitian melahirkan solusi. Kita ingin pembelajaran membentuk kemampuan, karakter, dan keberanian untuk bertindak. Kita juga ingin kehadiran perguruan tinggi benar-benar dirasakan dan membawa perubahan bagi masyarakat," tegasnya.

Pernyataan ini menjadi pesan tersirat bagi para dosen dan peneliti UBL agar output riset tidak hanya berakhir di perpustakaan, tetapi diterapkan untuk menyelesaikan persoalan riil di Lampung.

Momentum Penguatan Karakter Mahasiswa Baru

Kehadiran mahasiswa baru dalam upacara ini dinilai strategis. Mereka diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan keberanian untuk berkarya. Penanaman semangat kebangsaan sejak dini di bangku kuliah menjadi fondasi lahirnya pemimpin masa depan yang berintegritas.

Menutup amanatnya, Yusuf mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan peringatan HUT ke-81 RI sebagai pengingat bahwa kemerdekaan selalu membawa tanggung jawab. "Mari kita rawat Indonesia dengan persatuan, kita kuatkan dengan ilmu pengetahuan, dan kita majukan dengan karya nyata. Dirgahayu Ke-81 Republik Indonesia. Merdeka!" pungkasnya.

Reporter: Rizky Firmansyah
Sumber: beritanatural.net This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top