BANDARLAMPUNG — Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Lampung mencatat sebanyak 539 petani telah mengadopsi good agriculture practices (GAP) dan good handling practices (GHP) dalam sistem usaha tani terintegrasi kambing dengan kopi. Program yang dikenal dengan nama ICARE ini tidak hanya fokus pada peningkatan mutu hasil panen, tetapi juga mendorong petani untuk berorganisasi dalam wadah koperasi.
Pelaksana Tugas Kepala BRMP Lampung, Endro Gunawan, menjelaskan bahwa penerapan GAP dan GHP dalam sistem terintegrasi ini mencakup berbagai aspek. Mulai dari pemupukan, pemangkasan, rehabilitasi tanaman, hingga penanaman hijauan pakan ternak.
"Pemanfaatan kulit kopi sebagai campuran bahan pakan dan pengolahan kotoran kambing menjadi pupuk organik menjadi siklus yang saling menguntungkan," ujar Endro di Bandarlampung, Senin. Ia menambahkan, proses panen dan pascapanen kopi juga sudah lebih baik dengan menerapkan panen tua dan penjemuran menggunakan alas terpal.
Saat ini, BRMP Lampung telah membina lima koperasi di Kabupaten Tanggamus. Total petani yang tergabung mencapai 1.007 orang, tersebar di tiga kecamatan: Ulu Belu (321 orang), Air Naningan (473 orang), dan Pulau Panggung (213 orang).
Endro menekankan bahwa dengan menerapkan GAP dan GHP, para anggota koperasi sebagai aktor utama penghasil produk kopi dan kambing diharapkan memiliki kompetensi yang lebih baik. "Mereka bisa memasarkan produknya dengan baik," imbuhnya.
Bisnis koperasi yang sudah berjalan melalui program ICARE antara lain penyediaan sarana produksi seperti pupuk anorganik. Langkah ini untuk mendukung penerapan GAP serta peningkatan produksi dan mutu. Petani anggota koperasi pun sudah mendapatkan kemudahan dalam pembelian pupuk berkualitas. Ke depan, pada 2026, koperasi binaan direncanakan mengembangkan bisnis pada aspek pemasaran biji kopi dan hilirisasi.