WAY JEPARA — Pemerintah Kabupaten Lampung Timur terus menggenjot sektor perkebunan kakao melalui Festival Kakao yang berlangsung di Desa Sumur Bandung, Kecamatan Way Jepara. Bupati Ela Siti Nuryamah membuka festival dengan pesan tegas: petani harus bertransformasi dari sekadar produsen biji menjadi pengolah produk akhir.
Dalam sambutannya, Ela menekankan bahwa pengembangan kakao tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. "Kita harus terus melakukan transformasi, mulai dari cara budidaya, peningkatan kualitas hasil panen, pengolahan pascapanen hingga pemasaran yang lebih modern dan berorientasi pada nilai tambah," ujarnya.
Ia berharap petani mampu mengembangkan produk olahan bernilai ekonomi tinggi – seperti cokelat olahan, bubuk kakao, minuman cokelat, hingga berbagai produk kreatif berbahan dasar kakao. Festival ini, menurut Ela, menjadi ajang memperkenalkan potensi kakao Lampung Timur sekaligus memperkuat identitas daerah sebagai sentra kakao nasional.
"Mari kita jadikan kakao sebagai salah satu identitas dan kebanggaan Kabupaten Lampung Timur dengan membangun ekosistem kakao dari hulu hingga hilir," kata Bupati. Ia meyakini langkah ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani, membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan UMKM, serta menggerakkan perekonomian daerah.
Festival mengusung tema "Transformasi Kakao Lampung Timur" dan dihadiri Sekretaris Daerah, kepala OPD, camat, serta sejumlah pimpinan lembaga non-pemerintah dan mitra pembangunan. Hadir pula perusahaan pendukung seperti OFI, Barry Callebaut, Mars, Terve Chocolate, dan PT Tani, serta organisasi seperti Rikolto, PBN, GIZ, KAWAN TANU, GEMA CITA, dan CSP.
Selain pameran aneka kakao dan produk olahan, festival menampilkan inovasi pertanian ramah lingkungan – pupuk organik, fungisida organik, hingga bahan pengendali hama alami yang mendukung budidaya berkelanjutan. Suasana semakin semarak ketika seluruh tamu undangan bersama menikmati minuman cokelat sebagai simbol kebersamaan dan promosi konsumsi produk lokal.
Ketua Forum APIK menekankan pentingnya membangun petani kakao mandiri melalui budidaya berkelanjutan. Tanaman kakao, menurutnya, memiliki manfaat ekologis karena mendukung penghijauan dan mengurangi ketergantungan pada insektisida kimia. Forum juga menyampaikan sejumlah standar penanganan pascapanen: jangan menjemur biji kakao langsung di atas tanah, dan pastikan proses penjemuran optimal untuk menjaga mutu.
Untuk memudahkan pendataan, Forum APIK memperkenalkan rencana pengembangan Aplikasi Sistem APIK – sebuah sistem digital yang akan mengelola data keanggotaan, penyampaian program, dan monitoring perkembangan sektor kakao secara terintegrasi. Seluruh anggota didorong segera mendaftar agar data keanggotaan valid.
Melalui sinergi pemerintah, petani, dunia usaha, dan mitra pembangunan, Festival Kakao Lampung Timur diharapkan menjadi langkah nyata hilirisasi – meningkatkan kesejahteraan petani dan menjadikan Lampung Timur sebagai daerah penghasil kakao berkualitas yang bersaing di pasar global.