KNPI Lampung Kecam Pelabelan 'Londo Ireng' pada Jurnalis dan Aktivis, Masyarakat Diimbau Dialog Santun

Penulis: Rizky Firmansyah  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:20:31 WIB

BANDAR LAMPUNG — Istilah 'Londo Ireng' belakangan sering digunakan untuk merendahkan pihak-pihak yang kritis terhadap kebijakan di Lampung. Sebutan itu dianggap menghina martabat, terutama ketika dialamatkan kepada wartawan, aktivis LSM, pengamat, maupun warga biasa yang menyampaikan kritik.

Menanggapi fenomena ini, Jamal yang juga pengurus KNPI Lampung menegaskan bahwa kebebasan berpendapat dan keberadaan kritik adalah pilar utama demokrasi. Ia menilai pelabelan semacam itu tidak boleh dibiarkan menjadi hal yang lumrah.

"Demokrasi Butuh Ruang Dialog Sehat, Bukan Caci Maki"

"Demokrasi membutuhkan ruang dialog yang sehat, bukan ruang yang dipenuhi caci maki, pelabelan, dan penghinaan. Kehadiran pers, akademisi, dan aktivis merupakan pilar yang mengawal jalannya pembangunan agar tetap berada pada koridor kepentingan masyarakat," kata Jamal dalam keterangannya, beberapa waktu lalu.

Menurut Jamal, kritik dari elemen masyarakat sipil dan media massa berfungsi sebagai instrumen pengawasan agar tata kelola pemerintahan dan pembangunan tetap pro-rakyat. Karena itu, setiap perbedaan pandangan mestinya dijawab secara elegan dengan argumen, fakta, serta data yang objektif.

Bantah Kritik dengan Fakta, Bukan Serangan Pribadi

"Apabila ada kritik yang dianggap keliru, bantahlah dengan fakta dan penjelasan yang objektif. Perbedaan pendapat harus dijawab dengan argumentasi dan diskusi yang bermartabat, bukan dengan serangan pribadi yang memperkeruh suasana," tegas Jamal.

Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian pihak yang justru mengusir pengkritik untuk pindah negara ketika tidak sependapat. Jamal menilai respons demikian justru memperlemah sendi persatuan bangsa.

Merawat Etika Komunikasi di Media Sosial

Jamal mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bersama-sama merawat etika berkomunikasi di ruang publik maupun media sosial. Ia berharap kritik dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi konstruktif demi kemajuan daerah dan bangsa.

"Indonesia dibangun di atas semangat persatuan dalam keberagaman. Mari kita jadikan kritik sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk saling memusuhi. Demokrasi akan semakin kuat apabila perbedaan disikapi dengan kepala dingin dan mengutamakan kepentingan bangsa," pungkas Jamal.

Reporter: Rizky Firmansyah
Sumber: lampung.viva.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top