70 Persen Penduduknya Petani, Lampung Dorong Kawasan Industri Pangan Demi Hilirisasi Komoditas

Penulis: Nasrul Effendi  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:28:01 WIB

BANDAR LAMPUNG — Ketergantungan Lampung terhadap sektor pertanian sangat tinggi. Luas wilayah mencapai 3,3 juta hektare dan 70 persen penduduknya bekerja sebagai petani. Provinsi ini menjadi sentra produksi pangan nasional: padi peringkat keenam, jagung peringkat kelima, dan pemasok utama ubi kayu dengan kontribusi sekitar 70 persen terhadap produksi tapioka Indonesia. Lampung juga menyumbang 23 persen produksi nanas dunia.

Namun, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mengungkapkan masih banyak komoditas unggulan yang belum diolah secara optimal. “Bagaimana sisa komoditas yang belum dihilirisasi ini dapat diolah di Lampung. Karena itu, dibutuhkan kawasan industri pangan agar nilai tambah tetap berada di daerah,” ujarnya dalam pertemuan dengan jajaran Bappenas.

Empat Program Prioritas Hilirisasi dari Desa

Pemprov Lampung sudah menyiapkan sejumlah program untuk mempercepat transformasi ekonomi desa. Pertama, pembangunan fasilitas produksi pupuk hayati cair di 2.500 desa. Kedua, pembangunan pengering (dryer) hasil pertanian di 500 desa. Ketiga, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui program vokasi. Keempat, penguatan hilirisasi komoditas pertanian lewat Program Desa Ku Maju.

Gubernur Mirza menegaskan program-program itu mendorong agar komoditas tidak lagi dijual sebagai bahan mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah di tingkat desa. Pengembangan komoditas singkong menjadi salah satu prioritas karena produktivitasnya masih bisa ditingkatkan melalui varietas unggul, peningkatan kadar pati, teknologi budidaya, serta kemitraan petani dan industri.

Menteri Bappenas: Pertanian Hilirisasi Kunci Pemerataan

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rahmat Pambudy menyambut baik usulan tersebut. Menurutnya, perencanaan pembangunan harus disusun berdasarkan kondisi riil daerah, terutama dari tingkat desa. Ia mengapresiasi pendekatan pembangunan berbasis desa yang dirancang Lampung.

“Pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya tinggi, tetapi juga harus diikuti pemerataan kesejahteraan masyarakat. Di Indonesia Timur ada daerah yang pertumbuhannya sampai 20 persen, tetapi pemerataannya rendah sekali. Pertanian hilirisasi adalah jawabannya,” jelas Rahmat.

Bappenas, kata dia, akan mempelajari seluruh usulan Pemprov Lampung untuk dirumuskan menjadi solusi dan program pembangunan nasional. Pengembangan komoditas singkong dinilai memiliki prospek strategis, termasuk untuk energi terbarukan dan industri berbasis pertanian.

Reporter: Nasrul Effendi
Sumber: newsanalis.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top