LAMPUNG — Setelah melalui masa uji coba terbatas sejak Januari lalu, OpenAI akhirnya merilis fitur "Health in ChatGPT" secara luas untuk pengguna di Amerika Serikat. Fitur ini menghubungkan data dari Apple Health dan rekam medis pengguna untuk memberikan respons yang lebih kontekstual dan personal.
Dengan izin pengguna, ChatGPT dapat mengakses dan menganalisis berbagai data kesehatan, antara lain:
OpenAI menekankan bahwa fitur ini tidak hanya berguna untuk urusan medis serius. Dalam keseharian, ChatGPT bisa memanfaatkan data kesehatan untuk memberikan saran yang lebih relevan. Misalnya, jika pengguna memiliki pantangan makanan tertentu, ChatGPT bisa merekomendasikan restoran yang sesuai. Atau, jika pengguna baru pulih dari cedera, asisten AI ini bisa membantu merencanakan aktivitas akhir pekan yang rendah dampak.
Pengguna bisa mengajukan pertanyaan lanjutan, menambahkan konteks baru, atau mengoreksi informasi yang dianggap tidak akurat atau sudah kedaluwarsa. Fitur ini dapat diakses melalui menu "Health" di sidebar aplikasi ChatGPT.
Salah satu kekhawatiran terbesar saat fitur ini diumumkan adalah masalah privasi data medis. OpenAI menegaskan bahwa data rekam medis dan informasi dari Apple Health tidak akan digunakan untuk melatih model AI atau menargetkan iklan. Percakapan yang melibatkan data kesehatan juga tidak akan dipakai untuk keperluan tersebut.
Lebih penting lagi, ChatGPT akan selalu meminta izin eksplisit dari pengguna sebelum menggunakan data rekam medis atau Apple Health untuk mempersonalisasi respons. Bagi pengguna yang tidak ingin menghubungkan data kesehatan sama sekali, fitur ini tetap bisa berfungsi untuk menjawab pertanyaan umum seputar kesehatan.
Saat ini, fitur "Health in ChatGPT" baru tersedia untuk pengguna di Amerika Serikat yang sudah login dan berusia 18 tahun ke atas. Fitur ini bisa diakses melalui web dan aplikasi iOS, dan tersedia untuk semua paket langganan: Free, Go, Plus, dan Pro.
Belum ada pengumuman resmi mengenai kapan fitur ini akan menjangkau pengguna di luar Amerika Serikat, termasuk Indonesia. Mengingat regulasi data kesehatan yang ketat di berbagai negara, proses ekspansi global kemungkinan akan memakan waktu.