BANDARLAMPUNG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terus menggenjot pengembangan industri berbasis agro sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi daerah. Komitmen ini disampaikan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela dalam sosialisasi hilirisasi berbasis agro serta peningkatan daya saing IKM di Bandarlampung, Kamis (20/3).
Jihan menjelaskan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung saat ini mencapai Rp530 triliun. Sekitar 24 persen dari angka tersebut disokong oleh sektor agro atau pertanian, menjadikannya penyumbang terbesar, disusul industri pengolahan dan sektor penunjang lainnya.
“Kami ingin Lampung maju, berdaya saing, dan berkelanjutan sesuai dengan visi Presiden Republik Indonesia,” ujar Jihan dalam sambutannya.
Pemprov Lampung menilai, potensi PDRB yang besar harus dioptimalkan melalui penciptaan nilai tambah (value added) dari sektor industri. Oleh karena itu, pemerintah daerah tengah fokus membangun ekosistem industri yang terintegrasi.
Salah satu langkah konkret yang diambil adalah menghidupkan kembali (revive) industri berbasis desa melalui program unggulan “Desaku Maju”. Program ini dinilai sangat relevan dengan karakteristik perekonomian Lampung yang agraris.
Guna mewujudkan target tersebut, Pemprov Lampung mengharapkan kolaborasi yang semakin intensif dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI. Jihan mengatakan, langkah strategis ini diimplementasikan melalui sosialisasi hilirisasi berbasis agro serta peningkatan daya saing IKM.
Kegiatan ini selaras dengan arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas. Visi pembangunan daerah “Bersama Lampung Maju Menuju Indonesia Emas” ditopang tiga misi utama: pertumbuhan ekonomi inklusif dan inovatif, SDM unggul dan produktif, serta tata kelola pemerintahan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Provinsi Lampung memiliki berbagai komoditas unggulan yang mendominasi pasar nasional. Salah satu yang paling menonjol adalah singkong (ubi kayu), di mana Lampung menempati posisi nomor satu di tingkat nasional dengan jumlah produksi mencapai 7,3 juta ton.
“Dalam kerangka agenda tersebut, sektor industri pengolahan bertindak sebagai penghubung (konkret) dengan sektor pertanian yang menjadi kekuatan utama Provinsi Lampung,” kata Jihan.
Langkah akselerasi ini diyakini mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi daerah.