BANDARLAMPUNG — Direktur Penyaluran Dana BPDLH Damayanti Ratunanda mengatakan sekolah lapang kakao di Lampung Timur dirancang sebagai pusat belajar bagi pemuda yang ingin mengembangkan usaha kakao ramah lingkungan. Program ini tidak hanya mengajarkan teknik menanam, tetapi juga membuka akses pasar melalui kerja sama dengan offtaker.
Damayanti menjelaskan durasi pelatihan bervariasi, ada yang satu bulan dan ada yang tiga bulan, tergantung materi yang dipelajari. Peserta diajarkan cara membuat bibit kakao multiklon yang unggul dan tahan hama.
"Para pemuda ini nantinya diajarkan cara membuat bibit kakao yang baik menggunakan multiklon. Setelah mereka bisa mengembangkan usaha kakaonya, lalu hasil panen akan diambil oleh offtaker yang membuat sekolah lapang itu," ujar Damayanti di Bandarlampung, Kamis.
Setelah peserta menguasai teknik pembibitan, BPDLH akan membantu rehabilitasi tanaman kakao yang berusia di atas 17 tahun. Tanaman tua dinilai perlu diremajakan agar produktivitas kembali meningkat.
"Nanti modal kerjanya dari BPDLH yakni berasal dari dana bergulir," kata Damayanti. Skema ini diharapkan mempercepat regenerasi kebun kakao rakyat yang mulai menua.
Sekolah lapang ini ditargetkan menjadi tempat belajar bagi seluruh petani agroforestri di Sumatra yang ingin mengembangkan kakao dengan sistem agroforestri. Selama ini, pelatihan serupa hanya tersedia di Sulawesi dan Aceh.
"Pembuatan sekolah lapang untuk kakao yang berkelanjutan di Kabupaten Lampung Timur ini akan bekerjasama dengan berbagai offtaker," ucap Damayanti. Ia menambahkan komoditas lain seperti kopi dan buah-buahan juga akan dikembangkan dalam program perhutanan sosial di Lampung.
Pekan depan, BPDLH akan menandatangani perjanjian kerja sama dengan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di Lampung Timur untuk memasok alpukat Siger ke pasar segar Jakarta. Langkah ini memperkuat posisi Lampung sebagai salah satu sentra agroforestri nasional.