Tersisa 10 Murid, SDS Pujoraharjo di Puncak Gunung Bundar Pesawaran Bertahan Lebih Setengah Abad Lewat Jalan Setapak

Penulis: Nasrul Effendi  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 16:06:01 WIB
Seorang guru berjalan menyusuri jalan setapak selebar 50 sentimeter menuju SDS Pujoraharjo di Puncak Gunung Bundar, Pesawaran, Lampung.

PESAWARAN — Di ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut, SDS Pujoraharjo berdiri sebagai saksi bisu perjuangan pendidikan di pelosok Lampung. Sekolah yang dirintis sejak era 1970-an ini kini hanya memiliki sepuluh murid, tetapi tetap menjadi satu-satunya harapan bagi anak-anak di puncak Gunung Bundar untuk mengenyam pendidikan dasar.

Jalan Setapak dan Tanjakan 45 Derajat Jadi Akses Utama

Dari Bandar Lampung, perjalanan menuju kaki gunung memakan waktu sekitar satu jam 45 menit. Setelah melewati jembatan gantung di atas sungai, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Tidak ada jalan aspal. Hanya ada jalan setapak selebar 50 sentimeter yang sudah dicor semen dan hanya bisa dilalui sepeda motor.

Meski jarak dari kaki gunung ke sekolah hanya sekitar tiga kilometer, waktu tempuh bisa lebih dari satu jam. Medannya curam dan berliku, dengan tanjakan mencapai 45 derajat yang membelah hutan. Di sisi kiri dan kanan jalan, jurang menganga siap menelan siapa pun yang kehilangan keseimbangan.

Didirikan Secara Swadaya dengan Bangunan Kayu dan Atap Alang-Alang

SDS Pujoraharjo bukan sekolah yang dibangun oleh pemerintah. Sekolah ini dirintis oleh almarhum Imam Suparyono bersama almarhumah Mariyana dan masyarakat setempat pada era 1970-an. Sebelum memiliki bangunan sendiri, kegiatan belajar mengajar menumpang di rumah-rumah warga.

Mustofa, warga yang datang ke kawasan itu pada 1974, masih mengingat kondisi awal sekolah. "Bangunannya dulu masih kayu-kayu hutan. Atapnya juga hanya alang-alang. Semua dibangun secara swadaya oleh masyarakat," katanya kepada Kompas.com, Selasa (14/7/2026).

Menurut Mustofa, bangunan sekolah awalnya berada di lokasi berbeda sebelum akhirnya dipindahkan ke tempat yang sekarang. "Awalnya sekolah juga swadaya. Setelah itu baru mendapat bantuan sehingga bangunannya menjadi permanen," ujarnya.

Listrik Hanya Malam Hari, Internet Sulit Dijangkau

Hingga kini, keterbatasan masih menjadi keseharian. Listrik di puncak Gunung Bundar hanya menyala pada malam hari. Jaringan internet nyaris tidak bisa diakses. Namun, gotong royong tetap menjadi fondasi utama. Guru-guru yang mengajar berasal dari warga sekitar yang rela mengabdikan diri agar anak-anak tetap bisa belajar.

SDS Pujoraharjo telah bertahan lebih dari setengah abad. Dengan hanya sepuluh murid, sekolah ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak pernah berhenti, meski akses dan fasilitas serba terbatas.

Reporter: Nasrul Effendi
Sumber: regional.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top