Review RayNeo X3 Pro: Layar MicroLED Ganda Paling Terang di Kelasnya, Tapi Baterai Jadi Kelemahan Krusial

Penulis: Nopriansyah Putra  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 04:26:31 WIB
RayNeo X3 Pro memiliki layar MicroLED ganda dengan kecerahan puncak 6.000 nit yang tetap terbaca di bawah sinar matahari langsung.

LAMPUNG — RayNeo, divisi AR dari TCL, meluncurkan X3 Pro secara global pada Desember 2025 setelah debut di China. Perangkat ini paling ambisius: kacamata AR mandiri berbobot 76 gram tanpa unit komputasi terpisah. Dengan harga premium dan sejumlah kompromi, apakah layak dibeli? Berikut ulasan berdasarkan pengujian langsung.

Spesifikasi Utama RayNeo X3 Pro

  • Chipset: Qualcomm Snapdragon AR1 Gen 1 (4nm)
  • RAM & Storage: 4GB LPDDR5 + 32GB internal
  • Layar: MicroLED warna penuh ganda, kecerahan puncak 6.000 nit, field of view 30 derajat, setara layar 43 inci dari jarak 2 meter
  • Kamera: Sony IMX681 12MP (warna) + kamera monokrom untuk pelacakan spasial
  • Baterai: 245mAh, daya tahan 1-5 jam tergantung penggunaan, pengisian USB-C sekitar 45 menit
  • Konektivitas: Bluetooth 5.3, Wi-Fi 6
  • Bobot: 76 gram

Fitur Unggulan: Layar MicroLED Ganda dan AI Gemini

Keunggulan utama X3 Pro adalah layar MicroLED ganda yang memproyeksikan gambar ke kedua mata. Dengan kecerahan puncak 6.000 nit, tampilan tetap terbaca di bawah sinar matahari langsung — melampaui Meta Ray-Ban Display yang hanya 5.000 nit. Teknologi ini menggunakan 'Firefly Optical Engine' buatan RayNeo dan waveguide hasil kerja sama dengan Applied Materials.

Integrasi Google Gemini 2.5 (Beta) memungkinkan asisten AI multimodal. Pengguna bisa bertanya, menerjemahkan 14 bahasa secara real-time (respons sekitar 2,1 detik), atau mendapat navigasi dari HERE WeGo Maps langsung di bidang pandang. Sayangnya, AI ini masih memiliki kelemahan: asisten bersikeras menggunakan aksen Amerika, menjawab suhu dalam Fahrenheit, dan kadang memberi informasi tidak akurat — seperti menyatakan sepuluh presiden AS terakhir semuanya menjabat dalam 10 tahun terakhir.

Fitur navigasi menjadi salah satu kasus penggunaan paling praktis. Petunjuk arah dan landmark diproyeksikan langsung di depan mata, menghilangkan kebutuhan melihat ponsel saat berjalan kaki. Namun, aplikasi HERE WeGo Maps gagal diinstal selama pengujian, dan beberapa aplikasi memerlukan sideloading yang merepotkan.

Hal yang Kurang: Baterai Mini dan Masalah Kenyamanan

Baterai 245mAh adalah kelemahan paling krusial. RayNeo mengklaim daya tahan hingga lima jam untuk penggunaan ringan, tetapi dalam skenario aktif seperti navigasi, penerjemahan, atau perekaman video, waktu pemakaian bisa turun drastis menjadi 45 menit hingga dua jam. Pengguna disarankan membawa power bank, meski mencolokkan kabel USB-C saat dipakai bisa menggeser posisi kacamata dan mengganggu kenyamanan.

Dari segi desain, X3 Pro memiliki estetika mencolok. Dua kamera di jembatan hidung, proyektor MicroLED di dekat engsel, dan indikator cahaya di bagian depan membuatnya sulit dianggap sebagai kacamata biasa. "Jika Anda tidak siap tampil beda di publik, ini bukan perangkat untuk Anda," tulis reviewer Mark Pickavance.

Masalah lain muncul pada kecocokan dengan bentuk wajah. Bagi pengguna dengan rabun jauh, gambar proyeksi terlihat buram. Untuk melihat seluruh tampilan, kacamata harus diseimbangkan di ujung hidung — jika digeser sedikit, gambar menghilang. Touchpad di pelipis kanan juga sering tidak responsif atau salah membaca gestur, seperti menghapus aplikasi secara tidak sengaja.

Performa Nyata: Kamera Biasa Saja, AR Stabil

Kamera Sony IMX681 menghasilkan foto 12MP dan video 4K yang cukup baik di kondisi terang, dengan sudut pandang lebar cocok untuk perekaman point-of-view. Namun, hasil jepretan masih kalah dibanding ponsel kelas menengah, dan kurangnya zoom digital atau kontrol manual membatasi fleksibilitas. Di kondisi minim cahaya, noise dan grain cukup terlihat.

Sistem pelacakan 6DoF + SLAM dengan Falcon Image bekerja akurat dan stabil. Overlay AR tetap pada posisinya saat pengguna bergerak, memberikan pengalaman imersif yang natural. Prosesor Snapdragon AR1 Gen 1 mampu menjalankan navigasi, notifikasi, dan aplikasi AR dengan mulus, meski terkadang terasa mendekati batas kemampuannya saat menjalankan tugas berat.

Harga & Ketersediaan di Indonesia

RayNeo X3 Pro dijual dengan harga eceran US$ 1.169 (sekitar Rp 19,3 juta) di Amerika Serikat dan £1.169 (sekitar Rp 23,6 juta) di Inggris. Perangkat tersedia langsung dari situs resmi RayNeo dengan pengiriman ke AS, Inggris, Prancis, Italia, Jerman, dan beberapa negara lain. Kacamata ini belum tersedia di Amazon.com, tidak seperti produk RayNeo lainnya. Pelanggan lama X-series bisa mendapatkan diskon US$ 200 melalui program 'RayNeo Explorer'. Lensa resep tersedia terpisah mulai dari US$ 49 melalui mitra Lensology.

Sebagai perbandingan, Meta Ray-Band Display dibanderol US$ 799 (Rp 13,2 juta), Even Realities G2 seharga US$ 599 (Rp 9,9 juta), dan Halliday Smart Glasses US$ 500 (Rp 8,2 juta). Kacamata pintar tanpa layar seperti Ray-Ban Meta jauh lebih murah.

Kesimpulan: Untuk Siapa RayNeo X3 Pro?

RayNeo X3 Pro adalah kacamata AR paling canggih secara teknis yang bisa dibeli saat ini. Layar MicroLED ganda dengan kecerahan 6.000 nit memberikan pengalaman AR terbaik di kelasnya, dan bobot 76 gram adalah pencapaian teknik yang mengesankan. Perangkat ini cocok untuk pengembang AR, profesional yang membutuhkan penerjemahan langsung atau transkripsi rapat, serta pengadopsi awal yang ingin merasakan masa depan komputasi wearable.

Namun, untuk pengguna mainstream yang menginginkan wearable serbaguna untuk penggunaan seharian, teknologi ini belum siap. Baterai yang cepat habis, harga selangit, estetika mencolok, dan ekosistem aplikasi yang masih memerlukan sideloading membuatnya sulit direkomendasikan sebagai perangkat harian. Jika Anda mencari kacamata pintar untuk penggunaan sosial dan ringan, pilihan seperti Meta Ray-Ban Display mungkin lebih masuk akal. Tapi jika Anda ingin melihat sejauh mana teknologi AR bisa melangkah, X3 Pro adalah jendela ke masa depan yang paling terang saat ini.

Reporter: Nopriansyah Putra
Sumber: techradar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top