BANDARLAMPUNG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung melaporkan realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Lampung telah mencapai Rp4,35 triliun hingga Mei 2026. Angka ini tumbuh 6,15 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala OJK Provinsi Lampung Otto Fitriandy menyebutkan bahwa sebanyak 73.787 debitur telah menerima manfaat dari program pembiayaan tersebut. “Pertumbuhan pembiayaan UMKM menunjukkan bahwa sektor produktif tetap menjadi prioritas industri perbankan di Lampung,” ujarnya dalam keterangan resmi di Bandarlampung, Senin.
Data OJK menunjukkan konsentrasi penyaluran KUR tertinggi justru berada di tiga wilayah dengan basis ekonomi pedesaan. Kabupaten Lampung Tengah menempati posisi pertama dengan realisasi sebesar Rp220,10 miliar. Disusul Kabupaten Lampung Timur sebesar Rp140,11 miliar, dan Kabupaten Lampung Selatan sebanyak Rp112,91 miliar.
Fenomena ini menarik karena berbeda dengan distribusi kredit perbankan secara umum yang masih terkonsentrasi di perkotaan. Total penyaluran kredit bank umum di Lampung mencapai Rp95,34 triliun, dengan sektor industri pengolahan sebagai kontributor terbesar (23,6 persen atau Rp22,47 triliun), disusul sektor perdagangan besar dan eceran (22,2 persen atau Rp21,18 triliun).
Meski penyaluran KUR didominasi daerah pedesaan, distribusi kredit perbankan secara keseluruhan masih berpusat di ibu kota provinsi. Berdasarkan lokasi bank, total kredit di Lampung mencapai Rp88.704,26 miliar. Bandarlampung mendominasi dengan kontribusi sebesar 57,86 persen atau Rp51.314,38 miliar. Kota Metro menyusul di posisi kedua dengan 10,43 persen atau Rp9.256,07 miliar.
Lima daerah dengan distribusi kredit terbesar—Bandarlampung, Metro, Lampung Utara, Lampung Tengah, dan Pringsewu—secara kumulatif menyumbang 89,68 persen dari total portofolio kredit perbankan di seluruh Lampung.
Ke depan, OJK berkomitmen memperluas akses pembiayaan tidak hanya sebatas pemberian modal. Otto menegaskan pihaknya akan mendorong pendekatan ekosistem agar UMKM mendapatkan akses penampungan dan pemasaran produk. “Kami akan terus memperluas akses pembiayaan melalui pendekatan ekosistem agar UMKM tidak hanya memperoleh modal, tetapi juga memperoleh penampungan serta akses pasar,” kata Otto.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sendiri tercatat menyumbang 15,5 persen dari total kredit bank umum di Lampung, atau senilai Rp14,73 triliun. Hal ini menegaskan peran vital sektor agraris dalam perekonomian daerah yang berjuluk “Sai Bumi Ruwa Jurai” tersebut.