LAMPUNG — Asosiasi Sepak Bola Belanda (KNVB) mengonfirmasi kematian Dieperink pada hari yang belum diumumkan. Penyebab kematian wasit berlisensi FIFA itu juga tidak diungkap ke publik. "Kami kehilangan wasit yang sangat berharga, tetapi di atas segalanya, rekan kerja yang baik dan berdedikasi," tulis KNVB dalam pernyataan resmi.
Pada April lalu, Dieperink ditangkap Kepolisian Metropolitan London setelah ada laporan dugaan pelecehan seksual terhadap seorang remaja laki-laki. Peristiwa itu disebut terjadi di sebuah alamat di Wellesley Road, Croydon, pada 9 April — hari yang sama ketika ia bertugas sebagai VAR di laga Crystal Palace vs Fiorentina di Liga Conference Eropa.
Polisi menyatakan telah melakukan investigasi menyeluruh, termasuk mengumpulkan rekaman CCTV dan memeriksa perangkat digital. "Setelah pemeriksaan, mereka menyimpulkan bahwa ambang batas bukti tidak terpenuhi. Tidak ada tindakan lebih lanjut yang diambil," demikian bunyi pernyataan Metropolitan Police.
Meski kasus hukumnya gugur, FIFA tetap mencopot Dieperink dari daftar ofisial Piala Dunia pada Mei lalu. Ia sebelumnya dipilih sebagai asisten wasit video (VAR) untuk turnamen musim panas ini.
Dalam wawancara dengan harian Belanda De Telegraaf, Dieperink mengaku sangat kecewa. "Saya sedih sekali karena dituduh secara salah. Sejak awal saya kooperatif penuh dalam penyidikan dan langsung memberikan keterangan terbuka ke FIFA, UEFA, dan KNVB," ujarnya.
Ia juga berterima kasih atas dukungan KNVB. "Sayang FIFA memutuskan untuk tidak menunjuk saya lagi untuk Piala Dunia. Tentu saya kecewa," tambahnya.
Dieperink memulai karier sebagai wasit utama di Eredivisie sejak 2017. Ia juga tercatat sebagai ofisial VAR pada Euro 2024 di Jerman. Kematiannya mengejutkan banyak pihak di sepak bola Belanda. KNVB menyampaikan belasungkawa kepada keluarga, teman, dan semua yang mengenalnya.