Dari pesisir selatan Lampung, tampak sebuah pulau kecil yang terus mengeluarkan asap dari puncaknya, yaitu Gunung Anak Krakatau. Gunung ini lahir dari kaldera bekas letusan Krakatau yang mengguncang dunia pada tahun 1883.
Sebagai gunung berapi yang masih sangat aktif, Anak Krakatau menjadi objek yang menarik perhatian wisatawan, peneliti, hingga pendaki gunung api, meski aksesnya tetap harus memperhatikan status aktivitas vulkaniknya.
Berikut sejarah letusan Krakatau, kemunculan Anak Krakatau, dan fakta-fakta penting seputar gunung berapi ini yang perlu diketahui warga Lampung.
Gunung Krakatau tercatat sudah terbentuk sejak 416 SM, dengan letusan besar pertama yang menyebabkan tsunami dan pembentukan kaldera pada masa itu. Namun letusan paling terkenal terjadi pada 27 Agustus 1883.
Letusan paroksismal tahun 1883 ini melontarkan material vulkanik dengan volume mencapai 18 kilometer kubik, dengan tinggi asap letusan mencapai 80 kilometer, serta memicu tsunami setinggi 30 meter di sepanjang pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung.
Dampak dari letusan ini sangat besar, dengan 297 kota kecil hancur dan sekitar 36.417 jiwa dilaporkan tewas akibat bencana ini, menjadikannya salah satu letusan gunung berapi paling mematikan dalam sejarah modern.
Setelah letusan besar 1883, kaldera yang terbentuk perlahan memunculkan gunung baru. Aktivitas kemunculan ini mulai terlihat sejak 11 Juni 1927 hingga awal 1929, dan gunung ini secara resmi dianggap lahir pada 20 Januari 1929.
Nama Anak Krakatau sendiri merujuk pada statusnya sebagai gunung yang lahir dari sisa aktivitas vulkanik Krakatau, menjadikannya semacam "penerus" dari gunung yang meletus dahsyat puluhan tahun sebelumnya.
Sejak kemunculannya, Anak Krakatau terus dipantau secara intensif oleh para vulkanolog mengingat statusnya sebagai gunung berapi yang masih sangat aktif hingga saat ini.
Anak Krakatau dikenal memiliki laju pertumbuhan yang cukup cepat, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 4 hingga 7 meter per tahun. Bahkan pada dekade 1950-an, tercatat pertumbuhannya sempat mencapai 13 sentimeter per minggu.
Dengan luas yang kini mencapai sekitar 320 hektare, Anak Krakatau menjadi salah satu destinasi yang populer di kalangan pendaki gunung api dan peneliti vulkanologi, meski keseluruhan wilayahnya merupakan pulau tak berpenghuni.
Status aktifnya membuat gunung ini berpotensi mengalami erupsi sewaktu-waktu, sehingga akses ke kawasan ini selalu bergantung pada rekomendasi resmi dari otoritas kegunungapian.
Pada 22 Desember 2018, sebuah letusan besar Anak Krakatau menyebabkan keruntuhan pada kerucut gunung berapi utama serta lereng barat dayanya, memicu tsunami yang mematikan dengan gelombang setinggi lima meter yang mencapai daratan.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa meski Anak Krakatau tampak sebagai objek wisata alam yang menarik, statusnya sebagai gunung berapi aktif tetap menyimpan potensi bahaya yang perlu diwaspadai.
Warga pesisir Lampung dan Banten diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari otoritas kebencanaan terkait status aktivitas Anak Krakatau dari waktu ke waktu.
Informasi wisata dan berita seputar Lampung lainnya bisa dibaca di beranda lampungonline.com.