LAMPUNG — Pasar otomotif Indonesia bakal kedatangan teknologi baru yang menggabungkan efisiensi baterai besar dengan fleksibilitas bahan bakar fosil. Changan sudah memastikan akan menjadi pelopor dengan menghadirkan S05 REEV, sementara Leapmotor menyusul dengan B10 REEV. Keduanya berada di bawah naungan Indomobil, yang juga tengah mengkaji potensi pasar untuk produk ini.
Sekilas teknologi REEV mirip Plug-in Hybrid (PHEV), karena sama-sama bisa diisi bensin dan listrik. Namun perbedaan mendasar ada pada peran mesin pembakaran. Pada REEV, mesin bensin tidak pernah menggerakkan roda secara langsung. Fungsinya murni sebagai generator untuk mengisi daya baterai saat habis.
Hasilnya, pengalaman berkendara jauh lebih identik dengan mobil listrik murni (BEV). Torsi instan, respons gas linear, dan keheningan kabin tetap terasa karena roda hanya digerakkan motor listrik. Bedanya, konsumen tidak perlu panik mencari SPKLU saat baterai menipis — tinggal isi bensin untuk mengaktifkan generator.
Ridjal Mulyadi, Head of Marketing Changan Indonesia, menjelaskan bahwa REEV paling cocok untuk konsumen dengan mobilitas harian terbatas. “Jadi praktis, kalau misalkan konsumen yang jarak tempuh hariannya mungkin tidak lebih dari 170 kilometer,” ujarnya.
Dalam skenario tersebut, baterai akan menjadi sumber daya utama hampir sepanjang waktu. Konsumsi bensin pun bisa ditekan drastis, hanya diperlukan saat perjalanan jarak jauh atau ketika baterai sudah benar-benar habis. Ini menjadi solusi transisi yang realistis di tengah infrastruktur SPKLU yang belum merata di Indonesia.
Changan S05 REEV akan menjadi model pertama yang meluncur, dengan harga diprediksi di kisaran Rp 500 jutaan. Angka ini membuka peluang bagi model REEV lain dari merek Cina untuk berada di rentang harga yang tidak berbeda jauh.
Sementara itu, Leapmotor B10 REEV juga sudah masuk dalam rencana studi Indomobil. Tan Kim Piauw, CEO Indomobil National Distributor, mengakui adanya pertimbangan untuk memboyong model tersebut. “Produk yang kita studi bersama (dengan prinsipal) tempo hari selain BEV adalah REEV ya, memang ada beberapa pertimbangan,” katanya. Namun, ia belum mau membeberkan tanggal peluncuran pasti.
Kehadiran REEV di Indonesia bisa menjadi game changer di segmen kendaraan ramah lingkungan. Selama ini, konsumen dihadapkan pada pilihan antara BEV yang praktis tapi terbatas jarak, atau hybrid konvensional yang masih mengandalkan mesin bensin untuk menggerakkan roda.
REEV menawarkan jalan tengah: efisiensi EV untuk penggunaan harian, dengan mesin bensin sebagai jaring pengaman. Jika Changan dan Leapmotor sukses membangun persepsi ini, bukan tidak mungkin merek Cina lain akan ikut meramaikan segmen REEV dalam waktu dekat.