BANDAR LAMPUNG — Tim Pemberdayaan Masyarakat (PM) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (Unila) sukses menembus 60 besar nasional lewat inovasi pengelolaan limbah organik. Karya mereka masuk dalam ajang Seminar Berdampak 2026 yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Atas capaian itu, tim mahasiswa Unila diundang langsung mempresentasikan programnya di Amphitarium Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, pada 5 Juli 2026. Ketua Tim PM-BEM Unila, Muhamad Dzuhri, didampingi dosen pembina Yusuf Perdana, memaparkan solusi atas persoalan sampah di Desa Pasar Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat.
Sekretaris Tim PM-BEM Unila, Tri Rizki Handayani, mengungkapkan bahwa desa tersebut menghasilkan sekitar dua ton limbah organik setiap harinya yang selama ini belum terkelola optimal. “Kami membawa solusi konkret atas persoalan dua ton limbah organik harian di Desa Pasar Krui yang selama ini belum terkelola dengan optimal,” ujarnya saat diwawancarai di Kampus Unila, Rabu, 1 Juli 2026.
Inti dari inovasi ini adalah teknologi soluble liquid (SL), yaitu larutan biang homogen dari 33 jenis tanaman Zingiberaceae (temu-temuan), minyak nabati, dan minyak hewani yang dicampur dengan air lindi. Formula ini mampu mendekomposisi limbah organik dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa menimbulkan bau, sekaligus berfungsi sebagai bioaktivator hayati yang kaya mikroorganisme pengurai.
Dari proses hilirisasi riset ini, tim mahasiswa Unila melahirkan dua merek produk. Pertama, Refnila (Rebio Fertilizer Universitas Lampung), yakni pupuk organik cair dengan enam varian spesifik—mulai dari pembenah tanah, stimulan pertumbuhan dan pembuahan, pemberantas hama, hingga varian antivibrio untuk budidaya perikanan. Kedua, Rafnila (Rebio Animal Feed Universitas Lampung), pakan dan suplemen unggas bernutrisi lengkap yang terbagi menjadi dua varian berdasarkan usia ternak.
Dalam implementasinya, Tim PM BEM Unila melakukan transfer teknologi skala industri rumah tangga kepada 20 pemuda karang taruna dan delapan anggota kelompok nelayan lokal. Mahasiswa juga menghibahkan aset produksi berupa mesin pencacah sampah organik, alat press ulir, dan mesin penggiling limbah ikan untuk menjamin keberlanjutan program.
Pendampingan ini menargetkan pemuda karang taruna mampu mengolah hingga 80 persen sampah organik pasar setiap bulannya melalui manajemen ekonomi sirkular. Sementara itu, kelompok nelayan dilatih mengolah 70 persen limbah ikan menjadi pakan bernutrisi tinggi.
Program ini terbukti memberikan dampak berganda (multiplier effect) secara ekologis dan ekonomi. Keberlanjutan ekosistem dari hulu ke hilir di Desa Pasar Krui kini dikelola secara mandiri oleh masyarakat melalui penguatan kelembagaan Bank Sampah dan Usaha Bersama (UUB). Capaian ini mendukung target SDGs, khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).