LAMPUNG TIMUR — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menunjukkan arah baru pembangunan pariwisata daerah dengan menyambungkan dua elemen yang kerap berjalan sendiri: situs purbakala dan struktur adat. Setelah bertemu para penyimbang (tokoh adat) Marga Jabung, orang nomor satu di Provinsi Lampung itu langsung meninjau Taman Purbakala Pugung Raharjo.
Pugung Raharjo bukan sekadar taman biasa. Situs ini menyimpan artefak dari tiga lapisan peradaban: masa megalitik, pengaruh Hindu-Buddha, dan era Islam. Keunikan ini jarang ditemukan di kawasan Sumatera lainnya.
Menurut Gubernur Mirza, pengembangan kawasan ini tidak bisa dilakukan secara parsial. "Kami ingin menghidupkan kembali desa-desa budaya dan kawasan wisata berbasis kearifan lokal," ujarnya dalam pernyataan yang diterima redaksi.
Konsep yang ditawarkan bukanlah pariwisata massal yang hanya menguntungkan segelintir investor. Pemerintah mengarah pada community-based tourism—pariwisata berbasis masyarakat adat.
Model ini, merujuk pada teori Sustainable Tourism Development dari Richard Butler, mensyaratkan destinasi memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan. Artinya, masyarakat adat menjadi tuan rumah, bukan penonton.
Dampak ekonominya bisa menjalar ke berbagai sektor: lapangan kerja baru, jasa pemandu wisata, homestay, kuliner khas Lampung, transportasi lokal, hingga produk UMKM. Semua dikelola oleh warga setempat.
Keberhasilan skema ini bergantung pada satu syarat: kolaborasi. Gubernur Mirza sudah memulainya dengan menyambangi tokoh adat Marga Jabung sebelum meninjau lokasi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memperkuat identitas budaya.
Bagi Lampung, identitas itu menjadi keunggulan kompetitif. Di tengah persaingan destinasi wisata antardaerah, Pugung Raharjo menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki daerah lain: narasi sejarah panjang yang masih hidup dalam tradisi masyarakat adat.
Belum ada jadwal pasti kapan kawasan ini mulai beroperasi sebagai destinasi terpadu. Namun, rangkaian kunjungan Gubernur Mirza pekan lalu menjadi pijakan awal yang konkret.