LAMPUNG TIMUR — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama rombongan mendatangi Kesultanan Melinting di Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Senin. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian agenda kerja di wilayah Lampung Timur yang juga mencakup pertemuan dengan tokoh adat dan penyimbang Marga Jabung di Negara Batin, Kecamatan Jabung.
Sejumlah pejabat mendampingi Gubernur Mirza, yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Lampung itu. Di antaranya Kepala Bappeda Anang Risgiyanto, Kepala Disdikbud Thomas Amirico, Kepala Dinas Parekraf Tony Ferdinansyah, Kepala Dinas KPTPH Elvira Umihanni, Kepala Dinas Perkebunan Desti, serta pejabat dari Dinas Kominfotik.
Usai bersilaturahmi di Kesultanan Melinting, Gubernur Mirza meninjau lokasi produksi pupuk organik cair (POC) di Desa Tebing, Kecamatan Melinting. Dua desa yang telah ditetapkan sebagai desa wisata berbudaya Lampung juga masuk dalam agenda kunjungan, yakni Desa Wana di Melinting dan Taman Purbakala Pugung Raharjo di Sekampung Udik.
Di Desa Wana, Gubernur melihat langsung pusat kerajinan hias yang menjadi produk unggulan desa tersebut. Sementara di Pugung Raharjo, kunjungan difokuskan pada pengelolaan situs purbakala yang selama ini menjadi daya tarik wisata sejarah di Lampung Timur.
Keputusan Gubernur Lampung Nomor G/320/V.20/HK/2026 yang diterbitkan 9 Juni 2026 telah menetapkan 16 desa wisata berbudaya di seluruh provinsi. Kebijakan ini menjadi payung hukum bagi pengembangan desa-desa berbasis kearifan lokal dan potensi budaya.
Berikut daftar 16 desa wisata berbudaya Lampung yang sudah ditetapkan:
Penetapan 16 desa wisata berbudaya ini merupakan langkah konkret Pemprov Lampung untuk mengintegrasikan potensi budaya lokal ke dalam sektor pariwisata. Setiap desa memiliki keunikan tersendiri, mulai dari kerajinan tradisional, situs sejarah, hingga adat istiadat yang masih terjaga.
Gubernur Mirza dalam kunjungannya menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat dalam mengelola desa wisata. Silaturahmi ke Kesultanan Melinting, misalnya, bukan sekadar seremoni, melainkan pengakuan terhadap peran kesultanan sebagai simpul budaya di Lampung Timur.
Kunjungan ke lokasi pupuk organik cair di Desa Tebing juga menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata tidak berdiri sendiri. Sektor pertanian dan ekonomi kreatif didorong berjalan beriringan untuk menciptakan lapangan kerja baru di pedesaan.