BANDAR LAMPUNG — BMKG Lampung memantau kemunculan 16 titik panas yang terdeteksi melalui tiga satelit berbeda di wilayah Lampung pada Jumat (3/7/2026). Titik-titik tersebut menyebar di enam kabupaten, yakni Lampung Barat, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara, Tulang Bawang, dan Way Kanan.
Berdasarkan data BMKG, Satelit Aqua mendeteksi satu titik panas di Bandar Negeri Suoh, Lampung Barat. Sementara itu, Satelit NOAA20 menangkap sembilan titik panas yang tersebar di beberapa wilayah.
Rincian dari Satelit NOAA20 mencakup dua hotspot di Penengahan, Lampung Selatan; satu titik di Tanjung Bintang, Lampung Selatan; satu titik di Terusan Nunyai, Lampung Tengah; dua hotspot di Bunga Mayang, Lampung Utara; satu titik di Menggala Timur, Tulang Bawang; serta dua titik di Bahuga dan Negeri Besar, Way Kanan.
Satelit SNPP mendeteksi enam titik panas lainnya. Sebanyak satu hotspot terpantau di Penengahan, Lampung Selatan; satu titik di Bunga Mayang, Lampung Utara; dua hotspot di Hulu Sungkai, Lampung Utara; satu titik di Kotabumi Selatan, Lampung Utara; dan satu titik di Banjar Margo, Tulang Bawang.
Dari total 16 titik panas, satu hotspot memiliki tingkat kepercayaan tinggi. Artinya, area tersebut memiliki probabilitas lebih besar sebagai titik api atau kebakaran dibandingkan 15 titik lainnya yang masuk kategori kepercayaan sedang.
Prakirawan on Duty BMKG Lampung, Rizal Hidayat, menjelaskan bahwa hotspot adalah area di mana suhu permukaan terpantau lebih tinggi dibandingkan suhu kawasan sekitarnya. "Hotspot atau titik panas adalah suatu area di mana suhunya terpantau lebih tinggi dibanding suhu pada kawasan sekitarnya," ujarnya.
Deteksi dini titik panas menjadi langkah awal dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di musim kemarau. BMKG Lampung terus memantau perkembangan hotspot melalui data satelit untuk memberikan peringatan dini kepada pemerintah daerah dan masyarakat.
Belum ada laporan lebih lanjut mengenai dampak langsung dari titik panas tersebut. Masyarakat di enam kabupaten diminta waspada terhadap potensi kebakaran, terutama di area lahan kering dan permukiman yang dekat dengan titik-titik terpantau.