LAMPUNG — Toronto menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 dengan biaya yang membengkak drastis. Awalnya diperkirakan hanya 30-45 juta dolar Kanada pada 2018, angka itu melonjak menjadi 300 juta dolar pada 2022, dan akhirnya mencapai 380 juta dolar (Rp 4,4 triliun) per awal 2024. Dengan total pengeluaran pemerintah mendekati 1 miliar dolar untuk seluruh venue di Kanada, biaya per pertandingan di Toronto mencapai 82 juta dolar.
Masalah paling krusial adalah akses. Toronto Stadium hanya berkapasitas 45.000 kursi—terkecil di turnamen—dan disebut sebagai venue terburuk oleh banyak pengamat. Harga tiket di pasar sekunder melambung. Untuk laga pamungkas antara Kroasia dan Portugal, tiket dijual minimal 2.550 dolar AS (Rp 40 juta).
“Saya bisa hitung dengan jari tangan berapa banyak orang yang saya kenal benar-benar nonton pertandingan,” ujar David Roberts, profesor studi perkotaan yang meneliti dampak Piala Dunia sejak 2009. “Ini seperti situasi yang terputus. Banyak turis datang, berbaris di kota, lalu pesta—tapi tidak ada pengalaman kolektif.”
Kelompok Toronto Underhoused and Homeless Union (TUHU) menggelar aksi “red card rally” pada Mei 2026. Mereka melaporkan bahwa warga tunawisma diusir paksa dari kawasan pusat kota, terutama sekitar Union Station. Dalam beberapa kasus, terjadi kekerasan oleh petugas keamanan. TUHU menuntut penggantian kontraktor keamanan dengan pekerja sosial dan penyediaan tempat istirahat 24 jam.
“Kota tidak merespons pekerjaan yang kami tahu harus mereka lakukan. Kami mengerahkan perawatan komunitas semaksimal mungkin,” kata Angie Hocking, anggota TUHU. Meski data belum tersedia, ia khawatir banyak tunawisma mengalami perlakuan buruk terus-menerus selama turnamen.
Kontrak menunjukkan bahwa pemerintah menanggung seluruh biaya penyelenggaraan, sementara FIFA mengantongi pendapatan dari hak siar, tiket, hingga parkir. FIFA memperkirakan dampak ekonomi 3,8 miliar dolar untuk Kanada, dan pemerintah kota memproyeksikan pemasukan 940 juta dolar. Namun ekonom meragukan angka itu.
“Dari perspektif anggaran kota, tidak ada cara untuk mengembalikan uang itu,” tegas Roberts. Ia mencontohkan Chicago yang mundur dari proses penawaran pada 2018 karena FIFA dianggap kaku, dan Montreal yang mengikuti jejak serupa pada 2021. “Kami seharusnya melakukan hal yang sama. Uang itu bisa dipakai untuk membuat kota lebih layak huni.”
Suasana semakin panas saat FIFA Fan Fest di Nathan Phillips Square harus membatalkan siaran pertandingan Belgia vs Iran karena protes. Layar raksasa sempat menampilkan tulisan “Kami tidak akan menyiarkan pertandingan jam 3 sore” sebelum akhirnya siaran dilanjutkan di babak kedua. Kericuhan terjadi antara kelompok pro dan anti-rezim Iran. Sementara itu, spanduk “Kick Israel out of FIFA” dipasang di Gardiner Expressway, menutup logo resmi Piala Dunia.
Roberts menilai bahwa setelah turnamen usai, yang tersisa adalah pertanyaan tentang proses pengambilan keputusan. “Rasanya semua dilakukan di ruang belakang yang gelap, dan kita hanya menerima apa yang diberikan,” ujarnya. Namun ia optimis, audit yang baru-baru ini disepakati kota untuk mengevaluasi dampak mega-event pada warga rentan bisa menjadi langkah awal perbaikan.
“Kami seharusnya tetap jadi tempat yang menyenangkan untuk menonton Piala Dunia—dengan atau tanpa pertandingan di BMO Field. Menghabiskan uang sebanyak ini untuk acara pribadi di tepi danau adalah ide yang buruk,” pungkas Roberts.