BANDARLAMPUNG — Jamal, pengurus DPD KNPI Provinsi Lampung, mengkritik kebiasaan masyarakat yang kerap terjebak dalam debat kusir demi membela figur politik tertentu. Menurutnya, loyalitas buta kepada tokoh justru mengaburkan tujuan utama demokrasi, yaitu kesejahteraan rakyat.
“Saya sering melihat masyarakat kecil saling berdebat, menghujat, bahkan bertengkar membela tokoh atau pejabat. Padahal, kita jarang melihat para pejabat berselisih demi memperjuangkan nasib rakyat miskin. Ini harus jadi renungan bersama,” kata Jamal dalam keterangannya.
Jamal menegaskan bahwa dukungan kepada pemimpin atau pemerintah seharusnya didasarkan pada objektivitas kebijakan yang membawa manfaat langsung bagi warga. Ia mengingatkan bahwa dalam demokrasi yang sehat, masyarakat memiliki hak untuk mendukung program yang baik sekaligus kewajiban mengkritisi kebijakan yang kurang tepat.
Kritik tersebut, lanjut Jamal, harus disampaikan secara santun dan solutif. Ia juga mengimbau publik agar tidak mudah terpancing oleh narasi provokatif yang memecah belah, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Menurut Jamal, energi masyarakat saat ini lebih krusial jika dialihkan pada isu-isu mendasar seperti kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan ketersediaan lapangan kerja. Ia menilai perbedaan pandangan politik adalah hal yang lumrah, tetapi rasa persaudaraan sesama anak bangsa jangan sampai hilang.
“Jangan sampai rakyat terus diadu oleh perbedaan pilihan politik, sementara persoalan kesejahteraan belum terselesaikan. Beda pilihan itu lumrah, tetapi rasa persaudaraan jangan sampai hilang,” tegasnya.
Pada akhir keterangannya, Jamal mendorong seluruh elemen kepemudaan dan masyarakat untuk terus merawat persatuan. Ia meminta agar politik dijadikan sarana menghadirkan kesejahteraan, bukan alasan untuk saling membenci.
“Politik harus menjadi sarana menghadirkan kesejahteraan rakyat, bukan alasan untuk saling membenci. Mari kawal setiap kebijakan demi Indonesia yang lebih adil dan maju,” tutup Jamal.